Tampilkan postingan dengan label Karya Pengurus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Pengurus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

SOLUSI UNTUK MACETNYA JALANAN KEPUTIH TERCINTA

Jalanan Keputih Melalui Google Map

Jalanan Keputih bisa dikatakan merupakan jalan utama yang banyak dilalui oleh mahasiswa baik dari kampus ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya) maupun kampus UHT (Universitas Hang Tuah) dikarenakan jalan keputih adalah pusat keramaian bagi mahasiswa kampus tersebut, mulai dari tempat makan, tempat kebutuhan alat tulis, dan tempat kebutuhan sehari-hari ada di jalan ini. Tidak bisa dipungkiri untuk saat ini jalan keputih merupakan tempat yang banyak diminati oleh investor karena memiliki tempat yang strategis, tidak hanya untuk membangun pusat pertokooan namun juga perumahan-perumahan elite.
Seiring dengan berjalannya pembangunan sebuah kompleks perumahan di jalan keputih timur dan berlalu lalangnya sebuah mobil truk yang mengangkut bahan-bahan pembangunan membuat jalanan keputih yang dulu lancer sekarang dilanda kemacetan. Tetapi untuk saat ini kompleks perumahan tersebut sudah bisa dibilang selesai dan bisa ditinnggali, jadi kuantitas truk yang lewat di jalan tersebut berkurang. Namun sekarang kendalanya adalah bukan pada truk pengangkut bahan bangunan tetapi pada mobil-mobil orang yang tinggal di kompleks perumahan tersebut. Mobil-mobil tersebutlah yang sekarang penyebab timbulnya kemacatan di jalan keputih, apalagi ketika jam berangkat kerja jalan tersebut pasti macet karena jam berangkat kerja tersebut sama dengan jam masuk kuliah bagi mahasiswa. Ditambah pula ada anak-anak Sekolah Dasar dan TK yang sekolahnya juga terdapat di jalan keputih jam masuknya juga berbarengan. Jika peristiwa ini terus berjalan maka tidak bisa dipungkiri maka jalan keputih bisa menjadi “The Second Jakarta” karena dipenuhi oleh banyaknya kendaraan yang berlalu lalang dan padatnya jalan keputih ini. Oleh karena itu saya menawarkan beberapa tahapan solusi atas peristiwa ini.

Tahap yang pertama adalah mengatur alur atau laju lalu lintas dengan memberi lampu lalu lintas di pertigaan keputih. Karena di pertigaan tersebutlah yang menurut saya sering menjadi titik utama kemacetan karena tidak ada lampu lalu lintas maka banyak kendaraan yang mementingkan dirinya sendiri dan tidak mau mengalah. Dan juga di titik ini juga dekat dengan sekolah TK yang mengakibatkan titik ini sering banyak angkutan umum berhenti sekedar untuk menurunkan penumpangnya.

Tahap yang kedua jika tahap yang pertama sudah dijalankan, pada tahap kedua ini ada dua macam yang pertama jika ingin direalisasikan dalam jangka waktu pendek dan yang kedua adalah dalam jangka waktu yang panjang. Yang dalam jangka waktu yang pendek adalah melebarkan jalan yang berada di jalan keptih timur karena hanya pada jalan keputih timur saja yang masih ada jarak antara jalan raya dengan perumahan warga, bukan hanya melebarkan jalan saja tetapi juga setelah jalannya dilebarkan yaitu mengatur alur jalanya dengan cara membagi dua jalur yaitu untuk kendaraan roda dua dan untuk kendaraan roda empat atau lebih. Sedangkan dalam jangka waktu yang panjang adalah membangun jalan alternatif dari kompleks perumahan karena sejatinya orang-orang yang beerada di kompleks perumahan tersebut adalah orang kantoran dan kantornya berada di pusat kota Surabaya, oleh karena itu membangun jalan alternatif yang menghubungkan antara pusat kota Surabaya dengan kompleks perumahan tersebut.

Untuk tahap yang ketiga adalah dengan menyadarkan penduduk keputih agar tidak perlu menggunakan kendaraan apalagi bila hanya ingin berpergian dalam jarak yang pendek. Tahap yag ketiga ini juga berlaku pada mahasiswa di kampus sekitarnya apabila masih peduli terhadap jalan keputih ini maka pastilah mereka akan berpikir panjang untuk jalan ini. Karena menurut saya cara ini merupakan cara yang simple tapi yang sangat sulit dilakukan maka dari itu saya meletakkannya pada tahap ketiga. Tahap-tahap tersebut bisa terealisasikan dengan adanya kerjasama antara semua pihak mulai dari warga keputih, mahasiswa dari sekolah-sekolah maupun kampus sekitar, polisi lalu lintas, dan yang paling penting adalah Pemerintah Kota Surabaya yang setidaknya mengawasi seluruh kegiatan pembangunan di wilayah Surabaya agar nantinya tidak ada pihak yang dirugikan dari kegiatan pembangunan tersebut. Mungkin itu solusi yang bisa saya tawarkan, bisa atau tidaknya direalisasikan tergantung diri pihak-pihak terkait dan tentunya adalah kesadaran diri kita sebagai mahasiswa. Semoga jalan keputih ini bisa menjadi lancar kembali.

Minggu, 23 Juni 2013

Ebook Superlengkap Untuk Aktivis Dakwah Kampus

NB : Jika ada yang error link mohon segera diberitahukan di bagian komentar dengan menunjukkan link judul mana yang error, insya Allah admin akan segera memperbaiki atau mengklarifikasinya.Terima kasih. :-)
Petunjuk Download (Link download menggunakan free hosting sendspace.com)
1. Klik tulisan [Download] pada judul buku yang akan diunduh, kemudian  akan muncul jendela/tab halaman link download
2. Pada gambar seperti di bawah ini, klik tulisan “Clik here to start download from sendspace
petunjuk unduh ebook

3. Selanjutnya, proses mengunduh akan berjalan dan hasilnya akan tersimpan di lokasi hasil download yang menyesuaikan pengaturan komputer masing-masing
Buku Rekomendasi utama
1. [Download] Riyadush Shalihin – Imam Nawawi (Full Version)
2. [Download] Membentuk Karakter Cara Islam – Anis Matta (Ringkasan)
3. [Download] Model Manusia Muslim Abad XXI – Anis Matta (Review)
4. [Download] Mencari Pahlawan Indonesia – Anis Matta (Full Version)
5. [Download] Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) – Ibnul Qayyim al Jauziyah (Full Version)
6. [Download] La Tahzan – Don’t Be Sad – Jangan Bersedih – Aidh Al Qarniy (Full Version)
7. [Download] 8 Habits – Stephen R. Covey (Full Version)
8. [Download] Untukmu Kader Dakwah – KH. Rahmat Abdullah (Full Version)
9. [Download] Menikmati Demokrasi – Anis Matta (Ringkasan)
10. [Download] Ma’alim fi Ath Thariq (Petunjuk Jalan) – Sayyid Quthb (Non Full Version)
11. [Download] Dari Gerakan ke Negara – Anis Matta – Ringkasan
12. [Download] Al Islam (Ringkasan)
13. [Download] Syarah Ushul Isyrin – Hasan Al Banna (Full Version)
14. [Download] Fiqh Al Sirah Jilid 1 – Ramadhan Al Buthy (Full Version)
15. [Download] Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin – Majmu’atur Rasail – Hasan Al Banna (Full Version)
16. [Download] Capita Selecta Jilid 1 – M. Natsir (Full Version)
17. [Download] Capita Selecta Jilid 2 – M. Natsir (Full Version)
18. [Download] Selamatkan Indonesia, Agenda Mendesak Bangsa – Amien Rais (Full Version)
19. [Download] Zionisme : Gerakan Menaklukkan Dunia – Z. A. Maulani (Full Version)
Buku – Buku Islam lainnya
1. [Download] Re-Code Your Change DNA – Rhenald Kasali (Full Version)
2. [Download] – Dakwah Fardiyah – Mustafa Masyhur
3. [Download] 36 Strategi Perang ala Tsun Zu – Ringkasan
4. [Download] Mengembalikan Hak Umat – Amin Sudarsono (Full Version)
5. [Download] Jurnal Ilmiah Internasional - Framing Dakwah Frame Alignment Processes and KAMMI’s Struggle for a Sacred Society
6. [Download] Kumpulan E-Book Fiqh oleh Yusuf Qaradhawy
7. [Download] Usrah dan Dakwah – Hasan al Banna
8. [Download] Tarbiyah Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna – Dr. Yusuf Qardhawi
9. [Download] Sistem Masyarakat Islam Dalam Al-Quran dan Sunnah – Dr. Yusuf Qardhawi
10. [Download] Risalah Pergerakan Pemuda Islam – Mustafa Muhammad Thahan
11. [Download] Jurnal Muslim Negarawan
12. [Download] Jalan Dakwah – Mustafa Masyhur
13. [Download] Hasan Al Banna Sang Inspirator – Umar Tilmisani
14. [Download] Bukti Penguat Ikhlas – Yusuf Qaradhawy
15. [Download] Detik-Detik Hidupku – Hasan al Banna
16. [Download] Beberapa Studi Tentang Islam – Sayyid Quthb
17. [Download] Bagaimana Menyentuh Hati – Abbas As-Sisi
18. [Download] Bagaimana Kita Menyeru Kepada Islam – Fathi Yakan
19. [Download] Analisis Instan Problematika Dakwah Kampus – Ridwansyah Yusuf Achmad
20. [Download] Amal Jama’i – Syaikh Musthafa Masyhur
21. [Download] Al Wala’ – Sa’id Hawa dan Sayid Qutb
22. [Download] Virus-virus Ukhuwah – Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah
23. [Download]  Tanggung jawab Pemuda Islam Hari Ini – Abul A’la Al-Maududi
24. [Download] Rekayasa Lembaga Dakwah Kampus – Ridwansyah Yusuf Achmad
25. [Download] Manhaj Hidup Muslim – Al Maududi
26. [Download] Ke Arah Kesatuan Gerakan Islam – Fathi Yakan
27. [Download] Generasi Pemuda dan Perubahan – Fathi Yakan
28. [Download] Jalan Dakwah – Antara Qiyadah dan Jundiyah – Syaikh Musthafa Masyhur
29. [Download] Fiqih Sunah – Sayyid Sabiq
30. [Download] Fatwa Kontemporer – Yusuf Qardhawi – Media Islam – 2005
31. [Download] Muhammad Marketing – Thorik Gunara dan Utus Hardio Sudibyo (Full Version)
32. [Download] Fiqh Prioritas – Yusuf Qaradhawy (Full Version)
33. [Download] Ilusi Negara Islam – Abdurrahman Wahid (Full Version)
33. [Download] Kumpulan Tulisan Anis Matta
Buku Pengetahuan Lainnya
1. [Download] Gurita Cikeas – George Junus Aditjondro (Full Version)
2. [Download] MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011 - Wawasan Ke-Indonesia-an
3. [Download] Panduan Praktis Sekolah ke Inggris – Atase Pendidikan KBRI London
4. [Download] Bahan Uji Publik Kurikulum Pendidikan 2013

Minggu, 03 Februari 2013

Galau ? Stop NOW or NEVER

Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)


Oleh: 
Rachmat Noviyanto
2412100109
Sering denger kata Galau? Ya kata itu merupakan hal yang lumrah akhir-akhir ini. Entah sejak kapan dan siapa yang membuatnya yang jelas kata galau seperti sudah menjadi tren di kalangan remaja, namun sayangnya galau bisa dibilang hampir merambah semua golongan usia. Galau sering terjadi karena suatu perasaan yang tidak enak bisa disebabkan karena pikiran yang sedang dalam tekanan karena bingung masalah cinta atau masalah pekerjaan dan sebagainya yang membuat sang galauers menjadi labil emosinya dan biasanya mencari orang untuk diajak curhat.

Pertanyaannya adalah kenapa kita harus selalu bingung pada dunia yang jelas-jelas hanya sementara kita tinggali. Padahal dari Mustaurid bin Syaddad RA., ia berkata Rasulullah SAW, bersabda “ Perbandingan antara dunia dan akhirat tidak lain seperti seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke dalam laut. Silakan dia melihat seberapa banyak air yang menempel di jarinya saat dia mencabutnya dari laut.” (HR. Muslim) dari hadist ini kita bisa sedikit tahu bagaimana perbandingan antara dunia dengan akhirat kelak yakni air yang melekat di jari dibandingkan lautan yang luas.

Juga kenapa saat kita bingung sering mencari orang-orang yang bisa diajak curhat, padahal kita bisa berdoa dimana kita bisa curhat langsung dengan yang nyiptain kita, kita pasti akan ngerasa lebih deket. Curhat sama temen aja bisa 7 hari 7 malam, kalo sama Sang Pencipta?

Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

Jangan selalu negative thinking dulu lah setiap ada masalah. Kan udah jelas tuh di atas “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku” maka positive thinking dan senantiasa khusnudzon pada Allah SWT di setiap masalah yang menerpa.

"Tidaklah seorang mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya."( HR. Bukhari Muslim ).

Minggu, 11 November 2012

Buletin FUSI UA #1

HUMED FUSI UA proudly present :
Buletin Bulanan Fusi Ulul Albaab Teknik Fisika ITS,


"Karena dakwah adalah CINTA"


Minggu, 04 Maret 2012

TERIMAKASIH…. KAU BERIKU MASA DEPAN


Hal yang berkesan tak harus sesuatu yang besar. Terkadang sebuah bantuan kecil akan sangan berarti bagi kita, dan akan sangat membekas di hati. Seperti yang dialami seseorang, yang kini menjadi sahabatku di bangku kuliah. Kejadian tiga tahun silam, yang mampu mengubah jalan hidupnya. Sebuah peristiwa kecil, namun masih sangat lekat di benak Rizki, sahabatku itu.
Kejadian ini berawal ketika semua siswa sekolah menengah atas sedang sibuk memilih universitas dan berharap diterima di unversitas terbaik. Harap dan keinginan tersebut tumbuh pula di benak Rizki. Bagi anak seorang buruh pabrik sepertinya, harap itu mungkin hanya menjadi sebuah omong kosang. Semua butuh usaha yang keras, kegigihan, dan semangat baja. Dia memang seorang yang pantang menyerah. Berawal dari keberhasilannya masuk di sekolah menengah atas favorit di kotanya, meski dengan beasiswa pemerintah, serta keberhasilan menahan hinaan dari tetangga-tetangga yang menganggap orang bawah tak berhak untuk sekolah tinggi-tinggi, dia bangun kepingan-kepingan semangat dalam dirinya. Bahkan saat itu, saat semua orang menertawakan niatnya untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi, justru api semangat dalam dirinya semakin berkobar.
Kejadian itu terjadi di sebuah pagi yang suram. Dengan mata masih sayu, dia siapkan berkas-berkas pengajuan beasiswa. Beasiswa bidik misi dari salah satu perguruan tinggi negeri yang kini menjadi incarannya. Mendapatkan beasiswa adalah satu-satunya cara agar dapat mengenyam pendidikan tinggi tanpa mengeluarkan banyak biaya. Dia yakin semua persyaratan telah dilegkapi, karena semua telah dipersiapkannya sejak subuh. Berangkat pagi-pagi sebelum ayam berkokok hanya untuk sampai di sekolah lebih awal pun dilakoninya. Maklum, rumahnya memang tergolong sangat jauh dari sekolah. Berjalan kaki, naik angkot, hingga berakhir dengan naik bus. Semua itu telah menjadi rutinitas selama tiga tahun.
Ditemani rintik hujan, dia telusuri jalanan yang akan membawanya ke sekolah. Bersama dinginnya pagi, bersama harapan yang memuncak, serta bersama restu orang tuanya, langkah-langkahnya semakin pasti. Pukul tujuh tepat, dia telah berada di depan gedung besar yang tak lain adalah tempat yang ia tuju. Masih sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Bukannya dia terlalu memaksa ingin cepat, tapi batas penyerahan berkas beasiswa itu adalah di hari itu juga. Sekarang atau tidak sama sekali. Istilah itu yang mungkin sangat tepat baginya.
Masih dengan pandangan kosong. Dia tatap gedung besar di depannya. Sebuah bangunan yang selama tiga tahun ini menampung dirinya beserta ribuan siswa yang terkenal anak orang-orang elit. Alhamdulillah…. Berkali-kali dia ucap syukur sebelum benar-benar memasuki ruangan administrasi sekolah. Terasa kosong. Tak banyak orang disana. Hanya ada dua orang wanita paruh baya sedang menghadap komputer dan tumpukan kertas di depannya. Tidak salah lagi, wanita itu adalah pengurus tata usaha di sekolah Rizki yang sudah bekerja sangat lama, dan di usianya yang sudah lanjut, beliau tetap gigih bekerja. Tanpa berpikir panjang lagi, Rizki segera menghadap wanita itu dan menyampaikan keperluannya. Dengan senyum hangat, beliau meminta Rizki menyerahkan berkas, dan menunggu hingga berkasnya diproses.
Huh…. Lega tersirat di wajah manis Rizki. Wajah yang selalu teduh, yang mampu berikan semangat kepada siapa saja yang melihatnya. Sembari menunggu panggilan dari bu Fatma, wanita paruh baya pengurus tata usaha tadi, Rizki menyusuri setiap petak jalan di sekolahnya. Sambil nostalgia, pikirnya. Dia sempat bertemu dengan beberapa orang temannya yang nampaknya juga sedang mengurus masalah masuk universitas.  
Setelah lama menunggu, akhirnya bu Fatma memanggil Rizki ke kantor. Berharap urusannya segera selesai, Rizki bergegas memenuhi panggilan. Hari sudah mulai sore. Baru saja adzan Ashar berkumandang. Alhamdulillah, akhirnya selesai…. Ucap Rizki dalam hati.
Tanpa disangka, tanpa diinginkan, kelegaan itu hanya bertahan beberapa saat. Bu Fatma bilang berkas yang Rizki serahkan kurang lengkap, masih ada persyaratan yang belum dilampirkan. Seketika Rizki lemas. Seluruh urat-urat sarafnya seakan berhenti bekerja. Berkas yang sudah dipersiapkan sejak subuh, yang diyakini sudah lengkap, ternyata masih saja kurang. Dengan langkah terseok dan berkas masih di genggaman, dia keluar dari kantor. Putus asa. Kata yang kini menguasai diri Rizki. Satu-satunya pilihan adalah mengambil berkas yang kurang ke rumah. Namun, jarak rumahnya yang hampir sepuluh kilometer membuat Rizki patah semangat. Apalagi dia tak memiliki kendaraan sendiri, kalaupun mungkin mendapat pinjaman sepeda, dia masih belum punya SIM, bahkan untuk berkendara pun dia masih belum cukup cakap. Jika dipaksakan naik angkutan umum, bisa-bisa malam baru sampai sekolah lagi, dan pendaftaran sudah ditutup. Dia memilih duduk sendiri di bangku taman depan sekolah. Ah…. Sudahlah, aku menyerah…. Kata-kata di batinnya. Berbagai pikiran memenuhi otak Rizki. Pikiran tentang apa yang dilakukannya setelah ini, pikiran tentang apa yang akan dikatakan pada orang tuanya, hingga pikiran bahwa tak ada tempat di perguruan tinggi untuknya bergantian mengisi ruang di oraknya. Dipenuhi rasa kecewa, dia membuang berkas-berkas yang sejak tadi digenggamnya ke tempat sampah.
Belum lama termenung, tiba-tiba muncul Ardan mengagetkan. Sepertinya, Ardan mengawasi apa yang dilakukan Rizki sejak tadi. Dia pungut map merah yang tadi dibuang Rizki. Rizki pun akhirnya menceritakan semua yang dialaminya hari itu. Senyum tersungging di bibir Ardan mendengar cerita Rizki. Akhirnya, dengan tangan terbuka Ardan menawarkan bantuan untuk mengantarkan Rizki pulang mengambil persyaratan yang kurang tersebut. Seakan sebuah mimpi, datang malaikat yang mau menolong Rizki. Meskipun selama ini Ardan tidak begitu dekat dengannya, namun saat itu Rizki benar-benar telah menganggap Ardan sebagai sahabat. Mereka bergegas berangkat menuju rumah Rizki, mengejar waktu.
Jalanan terjal yang mungkin belum pernah ditemui Ardan sebelumnya tak menyurutkan niat baik untuk membantu temannya itu. Satu setengah jam kemudian, mereka telah kembali lagi ke sekolah sambil membawa berkas yang kini sudah lengkap. Pukul lima tepat. Bu Fatma hampir beranjak dari tempatnya. Namun, lagi-lagi dengan senyum hangat di bibirnya, beliau menerima berkas Rizki dan memasukkan data-datanya lewat komputer. Selesai… sekarang semua benar-benar telah selesai. Selesai sesuai target yang Rizki harapkan. Selesai tanpa harus ada kata menyerah. Selesai untuk berusaha, dan awal untuk sebuah do’a yang akan menentukan nasibnya untuk belajar di perguruan tinggi pilihannya. Beribu terimakasih Rizki ucapkan pada Ardan. Baginya, Ardan benar-benar telah memberinya hal yang sangat besar. Rizki sadar dia tak akan pernah bisa membalas kebaikannya, bahkan untuk sekedar membelikan bensin untuk motor Ardan atau sekedar mentraktir makan bakso pun dia tak bisa. Tak ada sepeserpun uang di kantongnya. Hanya ucap terimakasih yang tulus yang sanggup dia berikan.
Tiga minggu berlalu. Alhamdulillah…. Lamaran Rizki diterima. Dia telah resmi menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Sekarang, pikiran-pikiran mengerikan yang ada di otaknya dulu sirna, berganti bayangan bahagia yang akan dia ukir. Semua berkat jasa Ardan, orang yang memberinya bantuan ketika tengah putus asa. Orang yang membuat semuanya jadi nyata. Tanpanya, berkas beasiswa itu tak akan pernah diajukan, dan menjadi mahasiswa hanya menjadi sebuah mimpi. Sampai kapanpun, Rizki akan selalu ingat kebaikannya itu, meski sampai saat ini dia belum mampu membalas apa-apa. Mereka kini telah menjadi saudara.
Terkadang kebaikan itu didefinisikan sebagai perbuatan besar. Memberikan sejumlah uang kepada fakir miskin, memberi makan anak yatim, serta perbuatan besar lain yang tampak mata. Namun, sesungguhnya berbuat baik itu tidaklah harus dengan perbuatan besar. Sedikit kebaikan kita, mungkin mampu membuat orang lain tersenyum, bahkan membuat orang lain mendapatkan masa depannya. Seperti kisah yang dialami Rizki, meski hanya sebuah tebengan, namun mampu mengubah hidup seseorang, mampu memberi masa depan bagi orang lain. Jadi, jangan pernah takut untuk berbuat baik. Yakinlah jika kamu berbuat baik, maka suatu saat nanti kamu juga akan mendapat kebaikan dari orang lain. 

penulis: LK

Selasa, 08 November 2011

MANFAAT SHOLAT DHUHA


Pagi itu mentari berada diseperempat ubun-ubun (7 Hasta). Saya melihat rekan-rekan saya berbondong-bondong masuk ke masjid untuk melaksanakan sholat sunnat Dhuha. Begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sholat dhuha . Berikut beberapa hadist shohih yang menerangkan manfaat sholat Dhuha “ Rasullullah bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat sholat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya. “  (HR Hakim & Tabrani); dan juga “Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat shalatnya setelah shalat subuh karena melakukan i’ktikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (H.R Tirmidzi); “Dari Ummu Hani bahwa Rasullah SAW shalat dhuha 8 Rakaat dan Bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu Daud); “Dari Zaid bin Arqam  ra. Berkata ,”Nabi SAW keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha”. Beliau bersabda ,? Shalat awwabin (Duha’) berakhir hingga panas menyengat  (tengah hari).” (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi) Subhanallah begitu banyak janji-janji Allah kepada kita yang mau mengerjakan sholat sunnat ini.

Waktu yang tepat untuk melaksanakan Sholat dhuha adalah ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhu diutamakan kira-kira sekitar pukul 10 pagi. Jumlah Raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dengan setiap 2 rakaat disertai 1 kali salam dan dikerjakan secara  Munfarid  (tidak berjamaah), Caranya sebagai berikut : Niat didalam hati bebarengan dengan takbiratul ikhram; Aku niat shalat Dhuha 2 rakaaat karena allah”; Membaca doa Iftitah;  Membaca surat Al Fatihah ; Membaca satu surat dalam Alquran. Afdolnya rakaat pertama surat Asy-Syams dan rakaat kedua surat   AL-Lail ; Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali; I’tidal dan membaca bacaanya; Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali;  setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali; Rakaat-Rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas pada dasarnya sama seperti sholat pada umumnya namun lebih ditekankan saat membaca surat pendek sangat disarankan rakaat pertama  surat Asy-Syams dan kedua surat Al-Lail  


Penulis : Arif

Rabu, 21 September 2011

Manusia dan PWM (Pulse Width Modulation), Tasbih dalam Tubuh Kita.




PWM,,singkatan dari Pulse Width Modulations,,,adalah bentukan sinyal (berbentuk grafik fungsi Step) dengan logika 1 dan 0 dengan lebar pulsa yang tertentu..logika 1 d representasi kan oleh tegangan lebih dari 4 volts dan logika 0 oleh tegangan kurang dari 2 volts (ini contoh pada TTL)...sinyal ini juga memiliki frekuensi tertentu..PWM seringkali digunakan sebagai alat komunikasi internal sistem paling sederhana dalam sistem-sistem berbasis digital seperti ATMega dengan Servo atau Sensor...


2 hari lalu saya dan teman2 saya bermain-main dengan sebuah osiloskop analog yang umur nya sudah cukup tua,,,iseng-iseng teman saya menempelkan jari nya pada probe input,,,Subhanallah,,tampilan sinyal yg tadinya berupa garis lurus berubah menjadi semacam sinyal dengan frekuensi cukup tinggi namun dengan tegangan amplitudo kecil..sekilas sinyal itu tampak seperti PWM...dan setiap orang menunjukkan efek yang sama..ternyata bukan hanya IC ATMega aja yang bisa menghasilkan PWM,,tubuh kita juga bisa menghasilkan sinyal PWM walaupun dalam tegangan amplitudo rendah..


Berikut beberapa manfaat tubuh kita bila listrik alami yang mengalir adalah berupa PWM..

1.) Layaknya kabel,suhu normal tubuh kita cenderung tidak semakin memanas terus menerus,,karena listrik yang mengalir pada tubuh kita berupa PWM (ada saat-saat dimana tegangan 0,,bukan tegangan kontinu (DC) yang tegangannya tidak pernah 0

2).Ketika kaki kita di sentuh kan k bumi,sinyal PWM yang tampak pada osiloskop tiba-tiba membelok.Ini membuktikan bahwa tubuh kita senantiasa beradaptasi dengan lingkungan.Bayangkan bila tegangannya DC,interaksi bisa saja merusak bagian2 cair dalam tubuh kita


3) Allah berfirman dalam surah Annur ayat 41:"Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya , dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan."

Bisa jadi,setiap sinyal berulang yang terjadi alami adalah merupakan dzikir pada Allah,,yang berbeda-beda bentuknya sesuai ilham yang diberikan oleh Allah.

Gunung,,bertasbih dengan gemuruh yang merupakan osilasi berulang.

Burung,,bertasbih dengan kepakan sayap berulang dan teratur,,sebagian burung yang berkicau memiliki rangkaian nada yang berulang-ulang dalam kicauannya..

Sebagian serangga menghasilkan hormon feromon dalam kadar yang berbeda tiap waktu namun berulang

Petir bertasbih dengan kilatannya yang periodik (baik yang tampak turun ataupun yang hanya terjadi d awan)...

Dan contoh yang terakhir,,yang baru saja anda baca ,,,tubuh kita sendiri menghasilkan sinyal PWM yang berulang sepanjang hidup kita,,,bisa jadi inilah tasbih tubuh kita pada Allah..

Sekarang,,bila memang benar inilah cara tubuh kita bertasbih pada Allah,,mengapa hati dan jiwa kita seringkali lupa pada Allah?????

Wallahu'alam


(any sources)



Contoh bentuk PWM

karya: ARM

Senin, 01 Agustus 2011

Kamuflase Ramadhan

“Mohon maaf atas segala khilaf”
Ya, kurang lebih sms seperti itu yang masuk ke HP saya akhir-akhir ini. Tak heran karena memang tak lama lagi bulan Ramadhan akan kembali menghiasi hari-hari kaum muslimin di seluruh dunia. Semua orang yang berikrar sebagai muslim tentulah tahu keunggulan bulan suci Ramadhan karena memang keutamaannya senantiasa diucapkan dan dikabarkan para penceramah di masjid-masjid. Jika kita merenung, mengapa makna dari bulan Ramadhan begitu besar dan mendalam seakan menjadi titik tumpu setiap umat atas sejuta harapan untuk kehidupan yang lebih baik pasca Ramadhan. Tidak heran, jika muara Ramadhan yang ditandai dengan “Idul Fitri” dijadikan sebagai hari kemenangan setiap umat yang menunaikannya.

Bulan Ramadhan memang sangat luar biasa dalam menuntun manusia kembali ke dalam jalan Tuhannya. Bagaimana tidak, dapat kita saksikan fakta di sekitar kita bahwa banyak sekali fenomena yang khusus terjadi pada bulan suci ini, misalnya penuhnya jamaah sholat subuh di masjid-masjid yang biasanya sepi dari aktivitas sholat fardhu.
Sebelum berlanjut ke pembahasan selanjutnya, mari kita simak kebiasaan Rasul SAW dan para sahabat ketika bulan Ramadhan. Dahulu, Rasul SAW dan para sahabat senantiasa menyibukkan diri dalam beribadah. Di siang hari beliau tetap semangat beraktivitas dakwah dan di malam hari menyibukkan diri dalam sholat malam serta I’tikaf. Sekarang mari kita lihat fenomena umat islam saat ini, khususnya para pemuda. Di siang hari kebanyakan mereka mengurangi aktivitas dengan alas an berpuasa, kemudian bermalas-malasan. Di siang hari mereka memilih tidur siang dengan dalih tidur siang adalah ibadah. Memang benar, namun jika tidur siangnya orang berpuasa saja adalah ibadah lalu bias dibayangkan bila waktu tidur siang tersebut dilakukan untuk beramal sholih, tentu akan lebih berpahala besar. Sedangkan di sore hari, apa yang mereka lakukan? Mereka membuat daftar list masjid-masjid yang menyediakan buka puasa gratis nan dengan menu makanan yang di atas rata-rata. Manusiawi memang, namun kapan waktu yang disediakan untuk tilawah? Untuk sholat duha? Untuk membaca buku-buku islami?
Saudaraku sekalian, jangan sampai bulan suci Ramadhan yang benar-benar suci ini kita sambut dengan kesunngguhan ibadah kita yang hanya semu belaka, yang hanya bersemangat beribadah hanya dalam bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan latihan, yang artinya kita sebagai seorang muslim harus benar-benar siap menjalankan ibadah seusai Ramadhan. Semua orang mungkin sudah bosan dengan pernyataan ini. Tapi apakah kita pantas merasa muak dengan pernyataan ini sedangkan hal ini memang merupakan sesuatu yang harus kita laksanakan??
Rasa syukur yang tak terhingga kita panjatkan kepada Sang Pencipta alam semesta dan seisinya ini karena berkat kemurahan-Nyalah kita bisa melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan tahun ini. Marilah kita bersama-sama merenungi kembali bagaimana ibadah puasa kita tahun ini. Apakah puasa kita tahun ini lebih baik atau sebaliknya dari tahun-tahun yang telah kita lalui. Yuk, mari bersama berusaha menjadi manusia yang lebih baik!
Dalam samudera bisa diduga
Dalam hati siapa tahu
Ditunggu segera undangan buka puasa
Pasti bermakna ibadah Ramadhanmu

  sumber : fauzan-magetan.blogspot.com

Sabtu, 30 Juli 2011

Antara Tugas, Kewajiban dan Realita

Bismillah…
Siang ini (masih) terasa teduh, walau matahari berada tepat di pertengahan langit. Sinarnya masih halus menyentuh kulit, tak menyengat. Dalam perjalanan pulangku dari sebuah tempat keramaian, kucoba untuk memikirkan satu pertanyaan yang terus membayangiku selama ini. Ya, sejak kuputuskan untuk berada dalam barisan (yang katanya dakwah) ini bersama orang-orang yang kuanggap shalih. Pertanyaan itu tak bisa berhenti, terus terbayang dalam pikirku.
Sebagai seorang yang bergabung dengan barisan dakwah, harus siap untuk diatur dalam segala hal. Mulai dari penampilan, pergaulan, tutur kata sampai pemikiran yang harus jelas dasarnya. Awalnya aku tak keberatan, dengan segala aturan yang ada. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu, dan seterusnya. Karena kusadari, bahwa semua aturan-aturan itu adalah konsekuensi nyata dari ikrar (syahadat) yang seharusnya pun juga menjadi konsekuensi dari seluruh umat (Islam) yang mengikrarkannya. Namun sepertinya, perbedaan jalan yang terlanjur dijadikan sesuatu yang membedakan antara kami (yang berada dalam barisan dakwah) dengan pengikrar lainnya menuntut kami untuk ‘berbeda’ dari yang lain. Kesalahan kecil yang (mungkin) biasa dilakukan oleh pengikrar lainnya, seolah menjadi dosa besar ketika yang melakukannya adalah kami. Begitulah, sampai akhirnya timbul satu pertanyaan dari dalam hati. Seandainya suatu waktu ada seseorang yang melihatku berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan anggapan orang-orang yang (sudah terlanjur) beranggapan bahwa seorang da’i seharusnya memiliki keshalihan yang excelent, ibadah OK, pergaulan OK, tutur kata OK, ya…semua serba OK lah lantas orang tersebut (yang mungkin iseng) berkata, “kalian ini penampilan OK, bak ustadz/ ustadzah. Menjaga pergaulan sampai salaman sama lawan jenis aja ogah, kalo jalan nunduk sampai ada mobil di depan kadang-kadang gak tau. Ngomongnya kesana-kemari udah kyak Kyai-kyai kondang. Udah kayak penimbun pahala kan, udah yakin bekal di surga banyak dong? Seharusnya no accident, mesti sesuai…”
Hm..mungkin saat ini kata-kata itu hanya ada dalam pikiranku semata. Tapi bukan sesuatu hal yang tidak mungkin, suatu waktu, pernyataan dan pertanyaan semacam itu terlontar dari lisan seseorang dan langsung ditujukan ke muka ku. Astaghfirullahal’adziim… Lantas apa yang harus aku katakan? Kawan, tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang pembicara dalam sebuah pertemuan. Begini, yang bisa membawa kita masuk ke dalam Surga-nya Allah SWT. bukan-lah amal-amal kita, bukan seberapa banyak uang yang sudah kita sedekahkan, seberapa rajin kita sholat malam, seberapa sering kita puasa sunnah dan sebagainya. Tetapi yang membuat kita masuk ke surganya Allah adalah Rahmat-Nya. Ya, Rahmat yang Allah curahkan pada kita. So, bagaimana cara mendapatkan Rahmat itu?
OK, kembali ke pertanyaan seseorang (entah siapa) tadi. Mungkin sebenarnya jawaban pertanyaan itu simpel, hanya yakin atau tidak. Tapi bagi orang sepertiku (yang sangat banyak kesalahan-nya dan jauh dari kata sempurna) cukup membuat bibir ini terkunci rapat, dan membuat kerongkongan ini tersedak. Dengan segala kerendahan hati, jawaban ini yang terpikirkan olehku,
“pak, bu, dik, kak, mas, mbak, teman…. begini, tau berapa lama kita hidup di dunia? Hanya sebentar. Sangat… sebentar. Lantas, dengan waktu yang sebentar itu apa yang bisa kita lakukan untuk mengumpulkan bekal di akhirat? Mengenai ‘penampilan’, yang seperti ini bukanlah aturan untuk saya saja, melainkan untuk seluruh orang-orang beriman. Bukan begitu? Ini adalah salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk membentengi diri saya agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. dengan ‘penampilan’ seperti ini maka saya akan terus mengingat Allah, ketika hendak berbohong, membicarakan orang lain, mengumpat, atau bahkan mencuri. Ini salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk menghindari hal-hal tersebut.”
Pernah bahkan sering terlontar dari teman-teman putri yang belum ingin memakai jilbab, “saya ingin menata hati dulu, memperbaiki perilaku terlebih dahulu baru nanti pakai jilbab. Banyak yang sudah memakai jilbab ternyata tidak bisa menjaga diri”. Jika seperti ini, yang salah jilbab atau pemakainya? Sebenarnya jilbab tidak akan bisa merubah akhlak, kebiasaan, pemikiran seseorang. Tidak bisa juga menambah pemahaman seseorang tentang agama. Namun, jilbab bisa membatasi ketika akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama (seharusnya). Ibaratnya, seseorang yang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama dengan orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang tidak (seberapa) namanya. Apakan kualitas dan kemampuannya tergantung dari nama perguruan tinggi-nya? Begitu juga dengan penampilan. Memakai jilbab adalah kewajiban (sebagai seorang muslimah), sedang seberapa kualitas (iman dan ketaatan) seseorang, tidak bisa dinilai dari penampilan. Tergantung seberapa besar arti jilbab bagi seseorang. Kalau kewajiban yang sudah jelas saja tidak dihiraukan, bagaimana dengan aturan-aturan (larangan) Allah yang lain? (Ex. Menjaga hati, memperbaiki perilaku).
Well,,apa hubungan uraian (yang cukup panjang lebar) tersebut dengan pernyataan dan pertanyaan seseorang (tadi). Intinya, seberapa banyak bekal seseorang untuk kehidupan akhirat, tidak ada yang tau seberapa banyaknya, cukup atau tidak. Tapi yang jelas, segala yang dilakukan (dalam barisan dakwah) ini adalah sesuatu yang kami (saya) usahakan untuk terus memperbaiki diri. Menyadur dari kata-kata seseorang, di dalam diri seseorang itu ada dua sisi (seperti mata uang). Sisi baik dan sisi buruk, pilihannya hanya ada dua. Akan kita asah sisi yang baik atau sisi yang buruk. Ketika kita tidak melakukan (disibukkan) untuk melakukan suatu kebaikan, maka sisi buruk-lah yang terasah (secara otomatis). Sedang ketika kita sibuk dengan kebaikan, maka sisi buruk-lah yang akan mendominasi. Dalam hal ini, berlaku ungkapan ‘siapa yang kuat, dialah pemenangnya’. Hawa nafsu atau hati yang bersih? Beginilah cara (yang bisa kuusahakan) untuk mendapatkan curahan RahmatMu..
Seorang da’i bukan manusia yang tanpa dosa, bukan nabi atau rasul yang terjaga dari perbuatan-perbuatan dosa. Terlebih di lingkungan yang tidak semua orang memiliki visi dan misi yang sama. Sekali lagi, (‘penampilan’) ini adalah usaha untuk terus memperbaiki diri. Bukan sebaliknya, menjadi baik dulu baru menjaga penampilan.

from : http://buihpasir.wordpress.com/

Jumat, 08 Juli 2011

Nikmati Nikmat-Nya (Dari Sudut Angkot)

“ Cak…cak mandeg cak, melok!! “
“ Ayo lhang munggah! “,
Suara gaduh nan keras itu menyadarkanku dari lamunan panjang di dalam angkot. Kualihkan pandanganku pada tiga orang bocah yang baru saja naik, menambah sesaknya angkot. Sungguh, bukan anak – anak lucu selayaknya anak – anak seumuran mereka. Pakaian lusuh, apa adanya. Bahkan salah satu diantara mereka yang ku tafsir paling kecil usianya memakai anting di telinganya. Lhoh!! Emang salah?? Tentunya gak,, kalo anak kecil yang sedang kubicarakan ini adalah perempuan. Apa?? Maksudnya?!
Ya, gak usah kaget gitu kawan. Mereka yang sedang kubicarakan ini adalah segerombolan anak –anak berjenis laki – laki. Balik ke pembicaraan…
Tampilan mereka yang berbeda terus membuatku semakin tertarik untuk memperhatikan mereka.
“ Aduh,,kelas piro kon nak? “, Tanya seorang ibu yang ada di dalam angkot bersamaku. Pertanyaan itu ditujukan untuk anak laki – laki paling kecil (yang ku bicarakan tadi).
Tunggu,, sebelum dilanjut ke cerita berikutnya… kalian yang bukan orang jawa ngerti gak maksud percakapannya?? Ngobrol donk kawan.. aku kan gak ngerti kalo kalian gak Tanya artinya.
Begini,, perhatikan percakapan paling awal,, yang intinya gerombolan anak – anak kecil tadi teriak ke sopir angkot untuk berhenti, coz mereka mau ikutan naik angkotnya. Uda paham?
Lihat lagi ke dialog ibu – ibu, intinya ibu tadi nanya ke anak yang paling kecil “ Kelas berapa kamu nak? “. Nah,, udah ngerti kan?? Gitu kek dari tadi ngangguknya kan enak.
Lanjut cerita… (sampe mana tadi??)
O ya, dengan wajah melas tapi tetap tampak berani anak kecil tadi jawab… jawab apa ya?? Maaf,, aku kurang ingat betul. Tapi yang jelas,, dia seharusnya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. (mohon maaf atas ke alpaan saya sebagai seorang penulis).
Perlahan tapi pasti ibu yang tadi melakukan introgasi merogoh dompet dan mengeluarkan lembaran uang ribuan. Tanpa ragu ia berikan pada anak kecil itu. (Masih ada ternyata orang yang punya rasa empati…)
Sudah menjadi kebiasaan yang merupakan keharusan sebagai seorang manusia, anak kecil tadi membalas dengan ucapan “ Suwun bulik “ (baca: terima kasih bu).
Trusz apa yang gak biasa dari cerita ini?? Sabar… kawan, orang sabar menjadi kekasih Allah bukan??
Yang tidak biasa dari cerita ini terletak pada kalimat … dia seharusnya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ya, kenapa seharusnya?? Karena dari jawaban yang keluar dari mulut anak kecil itu dapat aku terka bahwa dia tidak lagi sekolah. Karena apa? Yupz… mungkin itu salah satu faktornya, keadaan ekonomi. Tapi ada alasan yang lebih memprihatinkan dari itu,, dia tidak lanjut sekolah karena suatu sifat… malas. Tidak bermaksud untuk berburuk sangka, jika kalian menyaksikan langsung bagaimana tingkah mereka di dalam angkot… bisa jadi punya pemikiran yang sama denganku. Ya, sifat malas itu tidak mungkin datang tanpa sebab bukan?? Bisa jadi mereka tinggal di lingkungan yang kurang baik. Bukankah tingkah laku dan sifat seseorang itu sebagian besar ditentukan oleh siapa yang mendidik dan bagaimana lingkungannya?? Gak percaya?? Coba buktiin dengan memperhatikan antara seorang siswa yang menempuh pendidikan di sekolah militer yang berdisiplin tinggi dengan siswa yang menempuh pendidikan di sekolah umum biasa. Berbeda bukan??
Cerita ini ditulis bukan untuk membuka aib atau bahkan memberikan efek negatif pada para pembaca yang sempat menyimak tulisan ini. Sebaliknya, tulisan ini dibuat untuk direnungkan…
Menyaksikan apa yang aku lihat di depan mata kepalaku sendiri, miris rasanya. Ingin menangis sejadi –jadinya, seakan peristiwa yang baru saja kulihat adalah cermin yang bisa membuatku melihat diriku. Ya betapa tidak, saat itu aku dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, entah jam berapa pastinya.. yang jelas langit sudah gelap, lampu penerangan jalan manyala. Kurasakan ketika itu, benar – benar letih, penat, capek rasanya dengan segala kegiatan kampus, ya kegiatan pengkaderan (maklum masih maBa), kegiatan akademik, belum lagi masalah rumah yang seakan – akan aku harus ikut memikulnya. Hufth… benar – benar hancur rasanya badan dan pikiran ini. Maklumlah… kuliah di kota sendiri, otomatis tinggal dengan orang tua. Berharap rumah bisa jadi tempat istirahat yang paling nyaman, tapi justru ketika sampai kadang rasa penat semakin menjadi – jadi. Dekat keluarga = tahu semua masalah keluarga, dan bagaimana keadaan keluarga terkini.
Cukup…cukup keluhanku!! Rasa letihku tidak akan hilang dengan hanya mengeluh saja. Tidak akan selesai masalahku hanya dengan memikirkannya dan berangan – angan semu. Apa yang Allah sempatkan untuk ku saksikan di depan mataku tadi seperti sentilan kecil yang bermakna,, BERSYUKURLAH!!
Ingatkah dengan nikmat Allah yang sesungguhnya sering kita rasakan, namun mungkin lalai untuk bersyukur atasnya. Apa itu??
KESEHATAN
KESEMPATAN
KEMAUAN
Kawan… ingat 3K,, ingat! Ketika kesehatan dan kesempatan telah Allah berikan,, ada biaya ada kemampuan namun tidak ada kemauan untuk menjalankan apa yang telah Allah sempatkan itu dengan sungguh – sungguh dan IKHLAS = 0 besar. Ya, ketika orang tua kita mampu untuk membiayai kehidupan kita (menyekolahkan, mengikutsertakan kita bimBel, melengkapi dengan berbagai fasilitas serba ada), tapi tanpa sadar, terkadang kita justru malah lalai menjalankannya (bermalasan, tidak sungguh – sungguh, etc.). Sudah benarkah sikap demikian?? Bagaimana jika sebaliknya,, ada kemauan, ada kemampuan untuk menjalankannya,, namun tak ada kesempatan untuk menjalankannya (tak ada biaya),, tak bisa juga bukan??
Sepertinya ada yang gak terima dari tadi kugunakan kata KITA,,Kita2 Lo aja Kali, Gw enggak!!! Hehe. Maaf kawan kalo diantara kalian ada yang gak terima. Ato sama sekali bukan tipe orang yang kutulis. Ini tulisanku… bukan?? Sebagai penulis, aku coba memandang dari peristiwa yang kerap kujumpai dalam keseharianku. So,, gak salah juga kan aku??? (tetep menang)
Nikmati NIKMAT ALLAH dengan SYUKURmu atasnya. Karena apa yang Allah sempatkan pada kita saat ini, apa yang Allah berikan pada kita saat ini,, BELUM tentu orang lain di luar sana mendapatkan kesempatan yang sama. Bersyukurlah dengan hidup kita yang selalu tersenyum,, ato dengan hidup yang jatuh – bangun ato bahkan dengan hidup yang selalu sedih dan penuh tangis (gak mungkin banget kan??) sepanjang hidup ini pasti tawa – tangis itu silih berganti. Kalo ada yang gak setuju, istighfar… ingat2 lagi kawan, kebahagiaan itu pasti pernah mampir ke hidupmu.
Biar gampang… aku kasih sebuah kunci yang bisa membuat kita merasa selalu bahagia dan menikmati (baca: menyukuri) hidup. IKHLAS,, itu kuncinya. Yang gak bisa dipesen di ahli kunci mana pun!
*nb: sengaja mempertahankan dialog dengan basa Jawa,, lebih tepatnya boso suroboyoan.

by: Rizambrika (http://buihpasir.wordpress.com/)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons