Sabtu, 30 Juli 2011

Antara Tugas, Kewajiban dan Realita

Bismillah…
Siang ini (masih) terasa teduh, walau matahari berada tepat di pertengahan langit. Sinarnya masih halus menyentuh kulit, tak menyengat. Dalam perjalanan pulangku dari sebuah tempat keramaian, kucoba untuk memikirkan satu pertanyaan yang terus membayangiku selama ini. Ya, sejak kuputuskan untuk berada dalam barisan (yang katanya dakwah) ini bersama orang-orang yang kuanggap shalih. Pertanyaan itu tak bisa berhenti, terus terbayang dalam pikirku.
Sebagai seorang yang bergabung dengan barisan dakwah, harus siap untuk diatur dalam segala hal. Mulai dari penampilan, pergaulan, tutur kata sampai pemikiran yang harus jelas dasarnya. Awalnya aku tak keberatan, dengan segala aturan yang ada. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu, dan seterusnya. Karena kusadari, bahwa semua aturan-aturan itu adalah konsekuensi nyata dari ikrar (syahadat) yang seharusnya pun juga menjadi konsekuensi dari seluruh umat (Islam) yang mengikrarkannya. Namun sepertinya, perbedaan jalan yang terlanjur dijadikan sesuatu yang membedakan antara kami (yang berada dalam barisan dakwah) dengan pengikrar lainnya menuntut kami untuk ‘berbeda’ dari yang lain. Kesalahan kecil yang (mungkin) biasa dilakukan oleh pengikrar lainnya, seolah menjadi dosa besar ketika yang melakukannya adalah kami. Begitulah, sampai akhirnya timbul satu pertanyaan dari dalam hati. Seandainya suatu waktu ada seseorang yang melihatku berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan anggapan orang-orang yang (sudah terlanjur) beranggapan bahwa seorang da’i seharusnya memiliki keshalihan yang excelent, ibadah OK, pergaulan OK, tutur kata OK, ya…semua serba OK lah lantas orang tersebut (yang mungkin iseng) berkata, “kalian ini penampilan OK, bak ustadz/ ustadzah. Menjaga pergaulan sampai salaman sama lawan jenis aja ogah, kalo jalan nunduk sampai ada mobil di depan kadang-kadang gak tau. Ngomongnya kesana-kemari udah kyak Kyai-kyai kondang. Udah kayak penimbun pahala kan, udah yakin bekal di surga banyak dong? Seharusnya no accident, mesti sesuai…”
Hm..mungkin saat ini kata-kata itu hanya ada dalam pikiranku semata. Tapi bukan sesuatu hal yang tidak mungkin, suatu waktu, pernyataan dan pertanyaan semacam itu terlontar dari lisan seseorang dan langsung ditujukan ke muka ku. Astaghfirullahal’adziim… Lantas apa yang harus aku katakan? Kawan, tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang pembicara dalam sebuah pertemuan. Begini, yang bisa membawa kita masuk ke dalam Surga-nya Allah SWT. bukan-lah amal-amal kita, bukan seberapa banyak uang yang sudah kita sedekahkan, seberapa rajin kita sholat malam, seberapa sering kita puasa sunnah dan sebagainya. Tetapi yang membuat kita masuk ke surganya Allah adalah Rahmat-Nya. Ya, Rahmat yang Allah curahkan pada kita. So, bagaimana cara mendapatkan Rahmat itu?
OK, kembali ke pertanyaan seseorang (entah siapa) tadi. Mungkin sebenarnya jawaban pertanyaan itu simpel, hanya yakin atau tidak. Tapi bagi orang sepertiku (yang sangat banyak kesalahan-nya dan jauh dari kata sempurna) cukup membuat bibir ini terkunci rapat, dan membuat kerongkongan ini tersedak. Dengan segala kerendahan hati, jawaban ini yang terpikirkan olehku,
“pak, bu, dik, kak, mas, mbak, teman…. begini, tau berapa lama kita hidup di dunia? Hanya sebentar. Sangat… sebentar. Lantas, dengan waktu yang sebentar itu apa yang bisa kita lakukan untuk mengumpulkan bekal di akhirat? Mengenai ‘penampilan’, yang seperti ini bukanlah aturan untuk saya saja, melainkan untuk seluruh orang-orang beriman. Bukan begitu? Ini adalah salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk membentengi diri saya agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. dengan ‘penampilan’ seperti ini maka saya akan terus mengingat Allah, ketika hendak berbohong, membicarakan orang lain, mengumpat, atau bahkan mencuri. Ini salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk menghindari hal-hal tersebut.”
Pernah bahkan sering terlontar dari teman-teman putri yang belum ingin memakai jilbab, “saya ingin menata hati dulu, memperbaiki perilaku terlebih dahulu baru nanti pakai jilbab. Banyak yang sudah memakai jilbab ternyata tidak bisa menjaga diri”. Jika seperti ini, yang salah jilbab atau pemakainya? Sebenarnya jilbab tidak akan bisa merubah akhlak, kebiasaan, pemikiran seseorang. Tidak bisa juga menambah pemahaman seseorang tentang agama. Namun, jilbab bisa membatasi ketika akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama (seharusnya). Ibaratnya, seseorang yang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama dengan orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang tidak (seberapa) namanya. Apakan kualitas dan kemampuannya tergantung dari nama perguruan tinggi-nya? Begitu juga dengan penampilan. Memakai jilbab adalah kewajiban (sebagai seorang muslimah), sedang seberapa kualitas (iman dan ketaatan) seseorang, tidak bisa dinilai dari penampilan. Tergantung seberapa besar arti jilbab bagi seseorang. Kalau kewajiban yang sudah jelas saja tidak dihiraukan, bagaimana dengan aturan-aturan (larangan) Allah yang lain? (Ex. Menjaga hati, memperbaiki perilaku).
Well,,apa hubungan uraian (yang cukup panjang lebar) tersebut dengan pernyataan dan pertanyaan seseorang (tadi). Intinya, seberapa banyak bekal seseorang untuk kehidupan akhirat, tidak ada yang tau seberapa banyaknya, cukup atau tidak. Tapi yang jelas, segala yang dilakukan (dalam barisan dakwah) ini adalah sesuatu yang kami (saya) usahakan untuk terus memperbaiki diri. Menyadur dari kata-kata seseorang, di dalam diri seseorang itu ada dua sisi (seperti mata uang). Sisi baik dan sisi buruk, pilihannya hanya ada dua. Akan kita asah sisi yang baik atau sisi yang buruk. Ketika kita tidak melakukan (disibukkan) untuk melakukan suatu kebaikan, maka sisi buruk-lah yang terasah (secara otomatis). Sedang ketika kita sibuk dengan kebaikan, maka sisi buruk-lah yang akan mendominasi. Dalam hal ini, berlaku ungkapan ‘siapa yang kuat, dialah pemenangnya’. Hawa nafsu atau hati yang bersih? Beginilah cara (yang bisa kuusahakan) untuk mendapatkan curahan RahmatMu..
Seorang da’i bukan manusia yang tanpa dosa, bukan nabi atau rasul yang terjaga dari perbuatan-perbuatan dosa. Terlebih di lingkungan yang tidak semua orang memiliki visi dan misi yang sama. Sekali lagi, (‘penampilan’) ini adalah usaha untuk terus memperbaiki diri. Bukan sebaliknya, menjadi baik dulu baru menjaga penampilan.

from : http://buihpasir.wordpress.com/

Jika anda menyukai artikel ini, silahkan di link balik dengan menyertakan link berikut di situs anda . Terima kasih.


0 komentar:

Posting Komentar

Tutur Kata Cerminan Pribadi Anda

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons