Kamis, 15 November 2012

Aina Anta? (Dimana Dirimu?)

           

 Kala matahari tak mampu memancarkan sinarnya
            Siang menjadi gelap
            Tak ada lagi cahaya..
            Ditutupi oleh asap hitam kezoliman..
            Lalu jiwa-jiwa berlarian mencari haknya
            Meminta perlindungan…

Dimana engkau saudaraku?
           Akankah engkau terus diam?
           Sementara disana saudaramu dalam keterpurukan oleh ketidakadilan dunia..
           Lalu dimana kontribusimu..??

Dia tidur beralaskan kewaspadaan..
Diselimuti aleh bunyi ledakkan dari tank-tank zionis yang setiap saat bisa datang membunuhnya…
          Lalu dimana engkau saudaraku???
Saat saudaramu menangis karena kebiadaban
Saat dia mencoba melawan dalam kelemahan

Akankah engkau terus diam dalam selimutmu?
           Dia saudaraku..
           Dia sudaramu..
           Dia saudara kita..

Lalu….
Aina anta ya akhie…!!?
Aina anti ya ukhtie…!!?
Aina anta…!!!

                  Aina..?  Aina..? Aina..?!!!
Wahai Islam…
Wahai jiwa-jiwa yang mengaku merindukan syurga…
Luruskan barisanmu..
Rapatkan saff mu…
Bersama kita bebaskan saudara kita
Bersama kita bebaskan Palestina..

             Allahu Akbar…!
             Allahu Akbar…!!!
             Allahu Akbar…!!!!!

Disadur dari http://fastabiq.com/aina-anta-dimana-dirimu.html

Minggu, 11 November 2012

Buletin FUSI UA #1

HUMED FUSI UA proudly present :
Buletin Bulanan Fusi Ulul Albaab Teknik Fisika ITS,


"Karena dakwah adalah CINTA"


Jumat, 09 November 2012

Kampus ITS tanpa JIL

Mahasiswa memadati KAUTSAR (Kajian Ba'da Ashar) membahas Kampus ITS tanpa JIL


Bertempat di Plaza Dr.Angka ITS, digelarlah event akbar membahas permasalahan pelik umat Islam saat ini yakni Liberalisme. Dengan yakin pula, kampus perjuangan ITS menginisiasi gerakan "Kampus ITS tanpa JIL".
Berikut Poster dari event tersebut.

Berikut adalah resume dari event tersebut:

Karenanya, Benteng Tak Hanya Diperlukan Saat Perang !




Ketidakteraturan dan kebebasan. Seringkali digunakan kaum liberal dalam mendefinisikan segala sesuatu, bahkan tak terkecuali pada konsep ketuhanan. Kaum liberal bahkan menciptakan definisi tersendiri dari Tuhan, menganggap Tuhan tidak boleh ikut campur urusan manusia, bahkan beranggapan Tuhan tidak akan tahu menahu tentang detil kehidupan manusia. Nah, akibatnya tidak ada namanya kebenaran mutlak dalam setiap aspek kehidupan. Bahkan agama juga harus tunduk pada perubahan zaman, kalau ada yang tidak relevan sedikit saja pasti akan se”kreatif” mungkin mereka rubah sesuai dengan rasionalitas berfikir manusia.


Dalam Islam, sama sekali tidak ada pembenaran pada paham berfikir liberal. Selain karena merupakan hasil berfikir dari sekelompok manusia, paham liberalisme juga telah banyak membawa kerusakan bagi umat Muslim, terutama dalam hal degradasi aqidah. Dampak nyata yang bisa ditimbulkan dari masuknya liberalisme dalam Islam adalah makna syariat yang seenaknya saja diubah-ubah. Dispensasi penggunaan jilbab misalnya. Dalam Al Qur’an telah jelas perintah Allah untuk menutup aurat salah satunya adalah mengenakan jilbab bagi kaum perempuan (Q.S. An Nuur 31), namun bagi kaum liberalis hal itu bukan menjadi suatu hal yang mutlak dan wajib dilaksanakan. Bahkan, karena dianggap bertentangan dengan konsep modernitas, agama terkadang dianggap sebagai hambatan hidup belaka.


Enggan beranjak dari zona nyaman seringkali menjadikan kita tidak tahu menahu tentang permasalahan yang ada di sekitar, termasuk “serangan” pemikiran liberal yang banyak digaungkan saat ini. Mengutip perkataan dari salah satu pembicara yakni ustadz Abdurrahman, pada acara Kautsar sore tadi, bahwa menurut beliau saat ini ITS masih bisa dikategorikan kampus yang aman, dalam artian pemikiran-pemikiran yang merujuk pada penyimpangan aqidah tidak begitu berkembang, namun yang perlu diwaspadai mungkin mahasiswa yang dalam jumlah banyak sangat berpotensi untuk di masuki faham-faham pemikiran, salah satunya adalah Jaringan Islam Liberal (JIL).


Oleh karena itu rasanya tak berlebihan jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa di kondisi aman sekalipun, kita masih tetap membutuhkan benteng pertahanan, Bukan tersusun atas batu-batuan seperti zaman peperangan tempo dulu, melainkan benteng pertahanan yang disusun dengan memperkuat aqidah dan ruhiyah kita... Semangat menyusun benteng pertahanan kita masing-masing.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons