Rabu, 30 November 2011

Kunjungan dari LDJ Ibnu Muqlah

Pemberian soufenir kenang-kenangan Dari Fusi UA Pada Ibnu Muklah
Sabtu, 26 November 2011. Kembali LDJ Fusi Ulul Albaab mendapat tamu. Bertempat di masjid manarulilmi LDJ Ibnu Muqlah (Matematika ITS) resmi berkunjung.

Acara dimulai pukul 10 WIB. Acara pertama dibuka dengan pembukaan dari akh Wisnu selaku Pembawa acara. lalu sambutan dari Ketua Umum Fusi Ulul Albaab, akh Fauzan Adzima dan Ketua Umum Ibnu Muqlah, Akh Krisna. acara kedua merupakan acara ramah-tamah yaitu perkenalana diri dari seluruh peserta. Selanjutnya, presentasi pengenalan proker-proker dari kedua pihak yaitu dari Fusi Ulul Albaab dan Ibnu Muqlah dan sesi tanya jawab. Acara diakhiri dengan Pemberian Cindera mata dari Fusi Ulul Albaab dan Ibnu Muqlah.

Kunjungan dari Ibnu Muqlah merupakan Kunjungan kedua setelah kunjungan dari KINI (Teknik Kimia ITS). Hal ini diharapkan dapat mempererat ukhuwah antar LDJ yang ada di ITS dengan Fusi Ulul Albaab.

Berikut Dokumentasi Kami:

saat akh fauzan memberi sambutan
saat akh Krisna memberikan sambutan
saat akh bima mempresentasikan proker Ibnu Muqlah

        suasana saat peserta mendengarkan presentasi






     Foto penerimaan soufenir kenang-kenangan dari Ibnu Muqlah


Minggu, 27 November 2011

MEMAKNAI AMANAH

Begitu mudahnya seseorang menuding bahwa si A, B, atau C itu tidak amanah. Sementara, ia sendiri belum tentu beramanah bila diberi kepercayaan. Mengapa? Apakah ia (si penuding) tersebut tidak memahami arti amanah atau sebaliknya?
Kata amanah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Definisi amanah tersebut memberikan pengertian bahwa setiap amanah selalu melibatkan 2 pihak yaitu si pemberi amanah dan si penerima amanah. Lebih jelasnya, hubungan keduanya dapat dijelaskan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya manusia secara individu diberi amanah berupa umur oleh Allah. Pertanyaannya adalah digunakan untuk apa umur tersebut? Apakah umur itu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat seperti bekerja, melaksanakan ibadah puasa, membaca Al Qur’an, dan yang lainnya. Bila kita sebagai individu sudah melaksanakan amanah tersebut sesuai tuntunan-Nya, maka kita pantas disebut orang yang dapat dipercaya alias bisa menjalankan amanah dari-Nya. Sebaliknya bila kita salah menggunakan amanah tersebut misalnya bermalas-malasan, tidak mau bekerja, hanya berdiam saja di rumah, maka kita oleh Allah dianggap orang yang tidak dapat dipercaya alias tidak beramanah seperti dalam firman Allah, yaitu:



“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal: 27)

Selain itu, contoh lainnya dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam berorganisasi. Adakah amanah di dalamnya? Tentu ada. Amanah apa yang dipikul seorang pemimpin atas anggota yang dipimpinnya. Tidak lain adalah mengajak, membimbing, dan mengarahkan anggotanya untuk berperilaku sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya sehingga mereka tidak hanya sejahtera di dunia juga di akhirat. Oleh karena itu, menjadi pemimpin umat beragama tidaklah mudah karena setiap kata dan tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia apalagi di akhirat kelak. Seperti lazimnya dilakukan oleh organisasi, hal tersebut direalisasikan dalam bentuk Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). LPJ itu lah yang merupakan wujud amanah yang diemban oleh sang pemimpin dan jajarannya. Jadi, amanah tidaknya seseorang pemimpin bukan dilihat dari penampilan fisik, materi atau keturunan, tetapi lebih ditentukan oleh kinerja. Misalnya bagaimana sang pemimpin mampu memobilisasi (menggerakkan) anggota serta mengorganisir sedemikian rupa sehingga mampu memberdayakan potensi anggota untuk kemaslahatan bersama sehingga yang menjadi tujuan utama adalah untuk kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi. 
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa amanah bisa diperlihatkan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari seperti kehidupan individu, keluarga, masyarakat, hingga negara. Dan setiap amanah yang diemban oleh individu akan dimintai pertanggungjawaban baik di dunia maupun di akhirat. Jika tidak melaksanakan amanah dengan baik maka ia tidak memiliki iman yang kuat.

Oleh : Choirul Amin
Editor : Syamsi

AL QUR’AN PENCERAH PERADABAN


Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Dan Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu masjid dari masjid-masjid Allah, untuk membaca Al Qur’an dan mereka saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan diturunkan kepadamereka ketenangan, diliputi rahmat, dan dikelilingi malaikat, dan mereka akan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim). Nasehat Rasul ini sesungguhnya telah membukakan kesadaran kita betapa pentingnya untuk selalu berinteraksi dengan Al Qur’an, karena di dalamnya ada banyak pelajaran yang sangat berharga dalam membimbing kehidupan kita. Sejarah telah membuktikan bagaimana kondisi masyarakat jahiliyah sebelum diwahyukan Al Qur’an kepada Rasulullah SAW, yang terjebak pada situasi kerendahan moral, arogansi para penguasa yang tak terbatas kepada rakyatnya, serta runtuhnya tatanan kemanusiaan dan sosial sehingga timbulnya konflik di antara mereka. Mesaki dilalui dengan perjuangan yang penuh dengan pengorbanan, dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW mampu merubah kerendahan moral menjadi Akhlaqul Karimah. Arogansi para penguasa menjadi lebih bijaksana, peduli dan mampu merangkul semua kalangan, karena Al Qur’an dan keteladanan Rasulullah menjadi bagian yang utuh dalam seluruh kehidupannya.
Tetapi ketika spirit Al Qur’an ditinggalkan serta suri tauladan Rasulullah diabaikan, maka muncullah kembali keegoisan yang haus kekuasaan dan sarat dengan berbagai kepentingan yang ada seperti masyarakat jahiliyah terdahulu. Adapun mereka-mereka yang komitmen untuk mempelajari Al Qur’an akan terus menemukan mutiara-mutiara kehidupan Islami, sehingga muncullah para ilmuwan - ilmuwan muslim yang mampu mengeksplorasi Al Qur’an seperti Ibnu Sina (Penulis kedokteran modern yang menjadi referensi ilmu kedokteran Barat), Al Khawarizmi (Penemu logaritma dan aljabar, penemu bahwa bumi itu bulat sebelum Galileo), Abu Wafa’ (Ahli trigonometri, geometri bola, penemu tabel sinus dan tangen, serta penemu variasi gerakan bulan), dan lain-lain. Mereka semua telah memberikan secercah harapan karena terinspirasi kemuliaan Al Qur’an.
Saat ini Indonesia telah dilanda dengan keegoisan yang haus akan kekuasaan dan sarat akan berbagai kepentingan yang ada. Kita benar-benar muak dan prihatin ketika keserakahan dengan mengambil hak yang bukan haknya, untuk dimanipulasi karena kewenangan ada di tangannya, dan itu dilakukan tanpa ada rasa malu sedikitpun dan tetap berkilah bahwa dirinyalah adalah orang yang benar dan tidak tersangkut apa-apa. Sebagaimana Firman Allah SWT:


“Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat luput dari siksaan Allah di bumi ini, sedang tempat kembali mereka (di akhirat) adalah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nuur :57)

             Adapun indikasi kejahatan yang dilakukan akan terkuak sehingga layak mendapat hukuman yang setimpal. Bagi oran yang beriman tidaklah mungkin menggantikan pola hubungan dengan Al Qur’an digantikan dengan pola ke Jahiliyaan. Apabila itu terjadi maka, imannya tidak yang sebenarnya, dan bisa jadi merupakan wujud kemunafikan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya.
               Memposisikan Al Qur’an sesuai dengan fungsinya akan mampu mencerahkan peradaban, sehingga kemuliaan didapatkan dan kemanusiaan dapat ditegakkan. Membumikan Al Qur’an adalah upaya pencerahan peradaban , sehingga hidup bersama Al Qur’an adalah hidup yang tercerahkan, dan hidup tanpa Al Qur’an adalah kematian yang menakutkan. Berbahagialah kawan jika engkau tetap hidup bersama Al Qur’an.

Oleh :  Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Editor : Syamsi

SABAR ITU INDAH


Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata sabar diartikan sebagai orang yang tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah). Sedangkan menurut bahasa arab, sabar berasal dari kata shabara-yashbiru-shabran yang memiliki makna memaksa, menahan atau mencegah. Kata sabar sangat mudah untuk diucapkan dan dinyatakan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Terutama ketika tertimpa musibah, sabar sangat sulit hinggap di hati manusia. Dalam menghadapi kehidupan modern yang penuh dengan gejolak hidup yang semrawut, persaingan hidup yang tinggi, kepedulian manusia semakin melemah, dan lainnya yang menyebabkan manusia harus menanggung atau memikul masalah hidup secara mandiri tanpa ada pertolongan dari orang lain. Dan saat kesusahan mendera, kepahitan mengcengkeram, maka sabar adalah pelita hati dan suluh rohani sehingga jiwa menjadi tegar, tidak mudah putus asa atau stres, tegak teguh dalam pendirian, dan terhindar dari godaan syetan yang terkutuk.
Kalau dalam menghadapi hidup kita sering mendapat ujian atau musibah dan sampai sekarang belum mampu bersabar, maka marilah kita contoh sikap dan suri tauladan Nabi Ayub as yang diberikan oleh Allah cobaan yang menurut akal manusia merupakan cobaan terberat manusia berupa harta yang habis tak tersisa, anak-anak yang meninggal semua, sekujur tubuh penuh luka hingga membusuk, hingga istri yang semula setia merawati beliau akhirnya pergi meninggalkannya. Dan beliaupun menghadapi penderitaan ini seorang diri. Namun, Nabi Ayub tak pernah berkeluh kesah, bersedih ataupun menunjukkan sikap jengkel terhadap Allah yang telah menimpakan ujian yang amat berat. Sehingga ketika rasa yang diakibatkan oleh penyakitnya mencapai puncaknya, dengan bibir gemetar dan suara yang lirih, Nabi Ayub bermunajat kepada Allah “Ya robbi, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkaulah yang Maha Penyayang”. Alangkah halus dan lembutnya doa permohonan beliau yang hanya “melaporkan” kepada Allah bahwa penyakit yang dideritanya sangat berbahaya bagi jiwanya. Yang diderita Nabi Ayub bukanlah penyakit Maradlun atau penyakit biasa, tetapi sudah mencapai tingkat Dlurrun yakni sesuatu yang membawa mudlarat, yang membahayakan. Namun demikian, Nabi Ayub as tidak terus terang meminta kesembuhan kepada Allah. Beliau hanya memuji bahwa Allah itu “Anta Arhamurrohimin”. Nabi Ayub sendiri pasrah dan tidak mau mendesak Allah untuk menyembuhkannya.
Berkat kesabaran Nabi Ayub as yang luar biasa, akhirnya Nabi Ayub as diberi kesembuhan, diganti lagi anak-anaknya, harta yang sebelumnya lenyap menjadi lebih banyak lagi, termasuk kembalinya istri yang dicintainya. Begitulah wahai kawan, betapa kita sangat terenyuh dengan cerita kenabian Nabi Ayub as yang mengharukan. Apakah diantara kita masih ada yang tidak bersabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah? Dan kalau belum sabar hendaknya untuk membandingkan semua itu dengan cobaan Nabi Ayub as agar kita bisa memiliki kesabaran terhadap cobaan yang diberikan Allah.
Tahukah kawan! Bahwa dalam ujian itu ada penghapusan dosa, ada peringatan agar kita tidak lalai dan sombong dan ada harapan untuk mendapat ganjaran. Dalam pandangan Allah semuanya adalah baik. Orang yang sabar menghadapi cobaan Allah, maka Allah akan menampakkan kebaikan dan keindahannya. Oleh karena itu sambutlah keberkahan, kemaslahatan dan keindahan hidup di balik ujian yang kita alami. Dan sebaiknya kita sebagai manusia haruslah bersabar dengan sabar yang baik sesuai dengan firman Allah:

“ Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (QS Al Ma’arij : 5)

Oleh : M. Khoirul Anam, S.Pd.I.
Editor : Syamsi 

NABI IBRAHIM TOKOH PANUTAN


Hari besar Islam yaitu Idul Adha sudah melewati kita. Tapi tahukah bahwasannya di momen tersebut banyak hikmah yang dapat menjadi panutan kita sebagai umat islam saat ini. Mulai dari puasa Arafah yang menurut Rasulullah SAW bisa menutup kesalahan setahun yang lalu dan setahun mendatang. Dilanjutkan dengan shalat Idul Adha yang diteruskan dengan menyembelih kurban hingga tanggal 13 Dzulhijjah 1432 H. Sementara sebagian orang yang mampu melaksanakan ibadah haji dan umrah di kota suci Mekkah dan sekitarnya. Usai melakukan umrah, dilanjutkan dengan ibadah haji pada tanggal 8 s/d 13 Dzulhijjah yang didalamnya banyak serangkaian ibadah haji mulai dari wukuf di arafah, mabit di Muzdalifah, melempar jumrah di Mina, menyembelih hewan kurban, melakukan tahalul hingga melakukan thawaf wada’ jelang pulang ke tanah air.
Baik syariat kurban maupun serangkaian ibadah haji, hakekatnya adalah mengikuti jejak Nabi Ibrahim as beserta keluarga beliau yaitu istri tercinta Hajar dan anak kesayangannya Ismail. Sebagaimana perintah Allah dalam firmannya yaitu:

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An Nahl : 123)

Dari ayat diatas, bahwasannya Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan kaumnya untuk mengikuti jejak agama Nabi Ibrahim as. Alasannya yaitu:
1.      Ibrahim as adalah pemuda yang cerdas dan kritis. Itulah sebabnya dia tidak mau menyembah tuhan asal-asalan seperti diyakini masyarakat sekitarnya. Dalam mencari Tuhan dimulai dari melihat bintang, bulan hingga matahari hingga semua itu lenyap dan beliau melepaskan diri dari kemusyrikan kaumnya, lalu menghadapkan wajahnya kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan sepenuh jiwa raganya.
2.      Ibrahim adalah pemuda berpendirian kuat serta pemberani. Beliau dengan keberaniannya menghancurkan berhala-berhala yang disembah raja Namrudz beserta rakyatnya sehingga beliau diberi hukuman yaitu dibakar hidup-hidup, lalu diselamatkan oleh Allah.
3.      Ibrahim as adalah sosok yang sangat patuh kepada Allah. Sangat patuhnya, dia siap melakukan perintah yang sangat berat di hidupnya yaitu menyembelih anaknya Ismail. Namun, karena itu hanya untuk menguji ketaatan Ibrahim, maka Allah mengganti Ismail yang akan disembelih dengan seekor kambing kibas yang besar.
4.      Nabi Ibrahim adalah ayah yang berhasil mendidik anaknya dalam ketaatan terhadap Allah. Sehingga ketika diperintah untuk menyembelih anaknya, Ismail menjawab: “Wahai ayahanda, apa yang diperintahkan oleh Allah kepada engkau, niscaya ayah akan mendapati aku sebagai anak yang sabar.”
5.      Doa Nabi Ibrahim banyak yang dikabulkan Allah berupa Mekkah yang yang aman dan generasinya dijauhkan dari menyembah berhala. Keturunannya termasuk kelompok shalihin dan banyak menjadi Nabi atau Rasul meneruskan cita-cita luhurnya.

Nabi Ibrahim meninggalkan banyak peristiwa bersejarah, seperti Ka’bah, Maqam Ibrahim, Sumur Zam-zam, Mas’a, Jamarat, Jabl Qurban, dan lainnya yang hingga kini menjadi pedoman berkurban dan haji bagi umat Islam sedunia.

Oleh : Drs. H. Syamsun Aly, M.A.
Editor : Syamsi

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons