Minggu, 23 Juni 2013

Ebook Superlengkap Untuk Aktivis Dakwah Kampus

NB : Jika ada yang error link mohon segera diberitahukan di bagian komentar dengan menunjukkan link judul mana yang error, insya Allah admin akan segera memperbaiki atau mengklarifikasinya.Terima kasih. :-)
Petunjuk Download (Link download menggunakan free hosting sendspace.com)
1. Klik tulisan [Download] pada judul buku yang akan diunduh, kemudian  akan muncul jendela/tab halaman link download
2. Pada gambar seperti di bawah ini, klik tulisan “Clik here to start download from sendspace“
petunjuk unduh ebook

3. Selanjutnya, proses mengunduh akan berjalan dan hasilnya akan tersimpan di lokasi hasil download yang menyesuaikan pengaturan komputer masing-masing
Buku Rekomendasi utama
1. [Download] Riyadush Shalihin – Imam Nawawi (Full Version)
2. [Download] Membentuk Karakter Cara Islam – Anis Matta (Ringkasan)
3. [Download] Model Manusia Muslim Abad XXI – Anis Matta (Review)
4. [Download] Mencari Pahlawan Indonesia – Anis Matta (Full Version)
5. [Download] Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah) – Ibnul Qayyim al Jauziyah (Full Version)
6. [Download] La Tahzan – Don’t Be Sad – Jangan Bersedih – Aidh Al Qarniy (Full Version)
7. [Download] 8 Habits – Stephen R. Covey (Full Version)
8. [Download] Untukmu Kader Dakwah – KH. Rahmat Abdullah (Full Version)
9. [Download] Menikmati Demokrasi – Anis Matta (Ringkasan)
10. [Download] Ma’alim fi Ath Thariq (Petunjuk Jalan) – Sayyid Quthb (Non Full Version)
11. [Download] Dari Gerakan ke Negara – Anis Matta – Ringkasan
12. [Download] Al Islam (Ringkasan)
13. [Download] Syarah Ushul Isyrin – Hasan Al Banna (Full Version)
14. [Download] Fiqh Al Sirah Jilid 1 – Ramadhan Al Buthy (Full Version)
15. [Download] Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin – Majmu’atur Rasail – Hasan Al Banna (Full Version)
16. [Download] Capita Selecta Jilid 1 – M. Natsir (Full Version)
17. [Download] Capita Selecta Jilid 2 – M. Natsir (Full Version)
18. [Download] Selamatkan Indonesia, Agenda Mendesak Bangsa – Amien Rais (Full Version)
19. [Download] Zionisme : Gerakan Menaklukkan Dunia – Z. A. Maulani (Full Version)
Buku – Buku Islam lainnya
1. [Download] Re-Code Your Change DNA – Rhenald Kasali (Full Version)
2. [Download] – Dakwah Fardiyah – Mustafa Masyhur
3. [Download] 36 Strategi Perang ala Tsun Zu – Ringkasan
4. [Download] Mengembalikan Hak Umat – Amin Sudarsono (Full Version)
5. [Download] Jurnal Ilmiah Internasional - Framing Dakwah Frame Alignment Processes and KAMMI’s Struggle for a Sacred Society
6. [Download] Kumpulan E-Book Fiqh oleh Yusuf Qaradhawy
7. [Download] Usrah dan Dakwah – Hasan al Banna
8. [Download] Tarbiyah Islam dan Madrasah Hasan Al-Banna – Dr. Yusuf Qardhawi
9. [Download] Sistem Masyarakat Islam Dalam Al-Quran dan Sunnah – Dr. Yusuf Qardhawi
10. [Download] Risalah Pergerakan Pemuda Islam – Mustafa Muhammad Thahan
11. [Download] Jurnal Muslim Negarawan
12. [Download] Jalan Dakwah – Mustafa Masyhur
13. [Download] Hasan Al Banna Sang Inspirator – Umar Tilmisani
14. [Download] Bukti Penguat Ikhlas – Yusuf Qaradhawy
15. [Download] Detik-Detik Hidupku – Hasan al Banna
16. [Download] Beberapa Studi Tentang Islam – Sayyid Quthb
17. [Download] Bagaimana Menyentuh Hati – Abbas As-Sisi
18. [Download] Bagaimana Kita Menyeru Kepada Islam – Fathi Yakan
19. [Download] Analisis Instan Problematika Dakwah Kampus – Ridwansyah Yusuf Achmad
20. [Download] Amal Jama’i – Syaikh Musthafa Masyhur
21. [Download] Al Wala’ – Sa’id Hawa dan Sayid Qutb
22. [Download] Virus-virus Ukhuwah – Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah
23. [Download]  Tanggung jawab Pemuda Islam Hari Ini – Abul A’la Al-Maududi
24. [Download] Rekayasa Lembaga Dakwah Kampus – Ridwansyah Yusuf Achmad
25. [Download] Manhaj Hidup Muslim – Al Maududi
26. [Download] Ke Arah Kesatuan Gerakan Islam – Fathi Yakan
27. [Download] Generasi Pemuda dan Perubahan – Fathi Yakan
28. [Download] Jalan Dakwah – Antara Qiyadah dan Jundiyah – Syaikh Musthafa Masyhur
29. [Download] Fiqih Sunah – Sayyid Sabiq
30. [Download] Fatwa Kontemporer – Yusuf Qardhawi – Media Islam – 2005
31. [Download] Muhammad Marketing – Thorik Gunara dan Utus Hardio Sudibyo (Full Version)
32. [Download] Fiqh Prioritas – Yusuf Qaradhawy (Full Version)
33. [Download] Ilusi Negara Islam – Abdurrahman Wahid (Full Version)
33. [Download] Kumpulan Tulisan Anis Matta
Buku Pengetahuan Lainnya
1. [Download] Gurita Cikeas – George Junus Aditjondro (Full Version)
2. [Download] MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011 - Wawasan Ke-Indonesia-an
3. [Download] Panduan Praktis Sekolah ke Inggris – Atase Pendidikan KBRI London
4. [Download] Bahan Uji Publik Kurikulum Pendidikan 2013

Kamis, 07 Februari 2013

Kisah Pelajar SMA Memeluk Islam

Aku pernah bekerja sebagai seorang guru olah raga di salah satu sekolah SMA di kota Fort Mead wilayah Maryland di negara Amerika. Aku mengajar lima kelas berbeda di sekolah itu. Mulai dari kelas sembilan (tiga SMP) sampai dengan kelas duabelas (tiga SMA), masing- masing lokal berjumlah sekitar 40 murid.
Pada suatu hari seorang murid bernama James meminta izin ingin bertemu denganku. Ia bukanlah salah seorang murid dari kelas yang aku tangani. Ia meminta izin melalui salah seorang muridku. Ketika aku menemuinya di kantor, ia bertanya tanya tentang perkara dalam islam. Lantas aku memberikan jawaban yang ringkas. Selanjutnya ia kembali menemuiku dan meminta keterangan tambahan tentang hal itu. Aku bertanya kepadanya “Apakah pertanyaan ini berhubungan dengan pelajaran ilmu kemasyarakatan yang sedang engkau pelajari?”. Jawabnya bahwa ia telah membaca buku tentang islam di perpustakaan sekolah yang memunculkan perasaan ingin tahunya tentang islam.
Negara Amerika membuat peraturan tentang adanya pemisah antara urusan agama dan negara. Aku beritakan bahwa pembicaraan tentang masalah ini panjang lebar kurang tepat dilakukan secara umum. Oleh karena itu aku mengundangnya untuk makan di restoran yang ada di dekat sekolah. Setelah mendengar panjang lebar penjelasanku tentang islam dan tauhid,
Pada waktu itu usia james masih 16 tahun. Ada beberapa ganjaran yang masih menggelaayuti pikiranku. Pertama, ia masih belum usia dewasa. Jika kedua orang tuanya tahu bahwa dia serius mempelajari islam dan selalu berbincang denganku, tentu mereka akan melarangnya. Di samping itu, kota Fort Mead tidak lebih sebuah kota kecil tempat pangkala bersenjata dan masih termasuk wilayah militer. Aku berfikir, jangan – jangan yang demikian dapat menimbulkan problem, karena itu pemuda itu bekerja di pangkalan tersebut.
Walau demikian, aku masih sering bertemu dengannya di resoran itu. Setiap pertemuan aku selalu memberi penjelasan yang lebih luas agar ia mendapat faedah yang lebih luas. Kemudian, muncul keinginannya untuk mengunjungi masjid tempat umat muslim melaksanakan sholat. Maka aku membawanya di masjid kota lauren yang berdampingan dengan Fort Mead. Masjid tersebut tidak lebih dari sebuah rumah kuno. Kaum setempat mengubah bentuknya menjadi tempat ibadah. Disana aku mengajarkan tatanan shalat yang akan membuatmu lebih tertarikl dan takjub. Karena shalat merupakan komunikasi secara langsung antara Allah dengan manusia.
Kemudian James mengabarka kepadaku tentang keinginannyauntuk memeluk agama islam dan menanyakan apa yang harus ia lakukan. Aku katakn caranya mudah, hanya dengan sebuah ucapan. Walau antusiasnya memeluk Islam sangat besar, ridak lupa aku sampaikan bahwa dosa terbesar yang diemban seorang hamba ketika bertemu dengan Rabbnya ialah dosa seorang murtad dari islam. Oleh karena itu ia harus menambah pengetahuannya tentang islam dan amalan yang telah Allah wajibkan baik yang berkaitan dengan tauhid atau perkara ibadah, agar ia memeluk Islam atas dasar kesadaran dan ilmu.
Beberapa hari kemudian, ia kembali menemuiku. Dengan anugerah dan nikmat Allah, serta dengan keinginan dan pilihan sendiri ia mengucapkan dua kalomat syahadat. Setelah itu dengan mengndarai mobilku, sekali dalam seminggu aku mengajaknya untuk melaksanakan shalat di masjid sekaligus untuk mendengarkan ceramah agama. Aku juga mulai mengajarkan huruf-huruf arab dan dengan mudah ia pelajari. Lantas aku mulai mengajarinya membaca Al Qur’an. Kemudian muncul keinginannya untuk mempelajari adzan. Setelah ia berhasil menguasainya, ia prktekkan ke masjid sebagaimana yang telah diajarkan. Pengaruh adzan yang ia dengar Dan ia kumandangankan terlihat jelas pada dirinya.
Pada suatu hari aku mengajaknya pergi ke masjid. Aku tercengang ketika melihatnya keluar tanpa menggunakan pakaian Amerika tapi malah mengenakan pakaian gamis. Apalagi masyarakat sekitar sudah mengetahui kalu aku sering pergi ke rumahnya dan menaminya pergi ke masjid. Mereka menanggapinya dengan perasaan tidak suka. Aku katakan kepadanya bahwa penampilan seperti ini akna mengundan banyak perhatian. Seorang muslim boleh memakai kemeja dan celana saat melaksanakan shalat. Setelah aku selesai bicara, ia memandangku dan menjawab dengan santai, “ya ustadz ahmad, imanmu lemah.” Aku bertanya, “apakah kedua orang tuamu melarangmu memakai gamis tersebut?”. Ia menjawab orang tuanya tidak melarangnya dan mereka memahaminya bahwa semua ini adalah keinginan dan pilihanku sendiri. Ia juga menyebutkan bahwa ibunya memasak daging halal seacara terpisah sebagai penghormatan terhadap dirinya yang tidak boleh memakan bangkai atau babi. Aku menjadi tenang mendengar semua itu.
Beberapa waktu kemudian, ia mendatangiku dengan membawa permintaan yang lain. Waktu itu ia masih duduk di bangku SMA. Ia ingin mengubah namanya dengan nama islami. Aku katakan hal itu tidak mesti selama nama itu tidak melanggar syari’at islam. Begitu juga dengan nama yang asing di kalangan teman – teman Amerikanya mungkin tidak membantunya dalam usaha untuk mendakwahi mereka ke dalam islam. Atau mungkin diantara mereka ada yang menyangka bahwa ia haarus menukar namanya jika ia ingin memeluk islam. Jika mreka mengetahui hal itu mungkin mereka akan mencuekinya. Namun ia menjawab dengan ucapanya yang lalu, “Ya ustaz Ahmad . . . imanmu lemah.” Sejak itu namanya berubah menjadi James Husain Abeba. Kelihatanya namanya yang terakhir diambil dari nama orang Afrika yang banyak ipakai oleh bangsa amerika berkulit hitam.
Setelah berhasil menyelesaikan jenjang SMU, ia mulai mencari pekerjaaan di saat liburan musim panas. Ia mendapat sebuah pekerjaan sebagai penerima tamu di salah satu klinik milik seorang dokter muslimah. Ia banyak mengisi waktunya dengan membaca, karena klinik itu baru berdiri, sehingga tugas yang dilakukan masih sedikit.
Pada suatu hari, aku berkesempatan untuk melakukan umrah di bulan Ramadhan. Ini adalah kali pertama aku menghabiskan waktu di Mekkah dan Madinah, ini adalah bulan yang berkah. Di balik kegembiraanku melaksanakan led bersama kaum muslim di Mekkah, aku masih mencemaskan pemuda (James) yang sendirian di sana. Aku menanyakan keadaanya kepada teman yang ada di masjid. Merka katakan bahwa ia masih tetap rutin datang, bahkan dia ikut I’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Ketika aku pulang, aku menanyakan beritanya dan aktifitas yang ia lakukan. Namun, ia tidak menyinggung sedikitpun tentang I’tikaf yang telah ia laksanakan.
Selanjutnya ia memasuki sebuah universitas dan memilih bidang sejarah Islam. Aku juga mendapat kabar bahwa ia juga menikahi seorang muslimah India. aktifitas yang ia lakukan adalah berupaya mempersatukan mahasiswa muslim yang belajar di kampusnya. Setelah menyelesaikan bangku kuliah, ia bekerja sebagai salah satu staf pengajar di salah satu sekolah Islam yang ada di kota Chicago. Dan setelah itu beritanya terputus.

Rabu, 06 Februari 2013

Me vs Syaitan

Oleh : Subuh Muarif Rofi’i (2412031065)
Hanya manusia beriman yang mampu mengalahkan tipu daya setan


"Karena Engkau Telah menghukum saya (iblis) tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Q.S. Al-Araf ;16-17).

Antum merasa malas, tidak bersemangat, lemas atau bahkan galau itu mungkin karena bisikan syaithan yang ada di sekitar antum (hihihi jadi merinding..). Syaithan sudah membuat sumpah pada Allah dari zamannya nenek moyang kita (Adam dan Hawa) untuk mencari temen sebanyak-banyaknya untuk di ajak mandi air hot di neraka pastinya. Temen..? Siapa...? Tentu saja keturunan anak cucu Adam yaitu ana dan antum sekalian. Syaithan akan selalu mengganggu kita sekalian sampai tibanya hari Akhir. Syaithan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan antum. Syaithan tak akan pernah tidur ( kaya ikan y.. ) sebelum bisa menjerumuskan manusia ke pada kesesatan. Bahkan saat antum tidur setan akan terus menggoda seperti sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: 

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
" 
Syaithan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan dia membisikkan padamu: “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika dia bangun lalu berzikir kepada Allah, maka lepaslah satu ikatan. Jika dia berwudhu maka lepaslah dua ikatan. Dan jika dia melanjutkan dengan shalat, maka lepaslah seluruh ikatan itu. Sehingga pada pagi harinya dia menjadi sangat semangat dan sehat jiwanya. Namun jika tidak, maka dia akan memasuki waktu pagi dengan jiwa yang buruk dan penuh kemalasan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wah, wah, wah, mereka rajin bangetkan nganguin manusia ( give applause prok2..). kalau gak mau tidur bareng setan maka baca doa dulu ya, sebelum tidur tahukan? Klo g tahu doanya Tanya Si Mbah Google aja..Ok.
Tidak hanya saat kita istirahat aja syaithan menggangu saat melakuan aktifitas sehari-haripun setan tambah semangat mengoda manusia. Misalnya, saat ngaji tiba-tiba ada cewek yang pakaiannya kekurangan bahan lewat dan syaithan yang selalu siap siaga di deket antum berbisik (Hey, berhenti dulu belajarnya!! lihat tuh ada cewek bohay lewat ) lalu antum menoleh, setan berbisik lagi (Gmana? HOT kan.. ) antum (Ah, Ternyata NENEK2 pakai handuk >,<). Ini dapat dijadikan pelajaran bahwa tempat belajar haruslah tempat yang tidak ada gangguan , bukannya belajar di Diskotik (Astafirullah…).
Apa antum takut sama syaithan??? Jika iya, itu sungguh memalukan bagi seorang muslim, lebih baik ganti agama aja dech (haha, just kidding). Persepsi takut itu karena kita menggangap syaithan seperti yang ada di film- film bermata putih, baju putih-putih, muka berantakan, punggung bolong, bertaring, kepala botak, berdarah-darah, suka sama jeruk purut, (capek dech) pokoknya seperti itulah. Tapi apanya yang nyeremin, takut sama pocong gak layau (buntelan lontong lompat2 sekali pukul ngolet2 dilantai), Suster ngesot ( kita jalan aja dia gak bisa ngejar apa lagi lomba lari), nenek gayung (udah nenek2 nyariin gayung lagi, g serem banget), tuyul ( jitakkin tuh pala botak atu-atu). Namun pada intinya syaithan juga adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang tidak dapat melakukan sesuatu tanpa kehendak dari –Nya. Syaithan tidak memiliki daya dan upaya pada diri kita, mereka hanya bisa berusaha dan berusaha menggoda manusia agar takut pada mereka serta memprovokasi untuk menjauhkan diri dari –Nya. Syaithan itu tidak bisa menyakiti manusia tapi malah sebaliknya manusialah yang menyakiti dirinya sendiri (Ok ..Brother)
Dalam pekerjaannya sebagai penggoda Si Iblis ini di bantuin sama 70.000 anaknya dan setiap anak ini memiliki 70.000 syaithan bisa di hitung sendirilah. Anak-anak ini suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus. Ada yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. Ada juga anak iblis dan syaithan yang suka duduk di pinggul dan paha wanita, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya. (Oh, pantes gue suka ngantuk waktu ada ceramah awas loe syaithan gue kencingi balik loe, haha).
Dalam ibadahpun syaithan masih tetap menggoda manusia (pantang menyerah sekali nih syaithan). Bagi yang suka mengulur-ulur shalat ni dia sebabnya ( jreng2..). Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku (iblis) bisikan padanya bahwa waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia menundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya “lihat kiri dan kananmu”, iapun menoleh. pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan “shalatmu tidak sah”. Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras. Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam. Kamu (Nabi Muhammad) tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai. Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. (Audzubillahi minasyaithanirajim..)
Tapi tenang, jika syaithan dapat melakukan hal buruk pada antum, antumpun dapat membalas perbuatannya itu. Caranya ini dia (tereretetet…deng2); Shalat (iblis merasa panas dingin dan gemetar), berpuasa (Tubuhnya terasa terikat hingga tiba berbuka), membaca Al-Quran (merasa meleleh laksana timah diatas api), bersedekah (sama saja membelah tubuhnya dengan gergaji),istighfar di waktu siang dan malam (membakar hatinya), Shalat fajar (menusuk matanya), Shalat berjamaah (memukul kepalanya) serta masih banyak amalan lain yang syaithan takut padanya.(Gimana BRO.. walaupun kagak bisa lihat ama nyentuh syaithan tapi bisa mukul palanya tuh , kerenkan ).
Ana Cuma mau sekedar ngingetin antum sekalian bahwa kita mempunyai musuh yang sangat nyata yaitu iblis dan atek-anteknya syaithan yang tak pernah berhenti menjerumuskan manusia pada jalan neraka. Iblis membisikan kejahatan melalui hati kita, sehingga kita sulit membedakan apa itu dari diri sendiri atau pengaruh dari iblis. Untuk itu selalu ingatlah kata AA Gym JAGALAH HATI JANGAN KAU NODAI JAGALAH HATI CAHAYA ILLAHI dan juga ingatlah kata Bang Napi WASPADALAH-WASPADALAH. Selalu ingatlah pada Allah bahwa tiada kuasa selain dari-Nya dan mintalah perlindungan dari iblis dan bisikan-bisikannya. Namun ada segi baiknya kita mencontoh semangat pantang menyerah dan pengabdiannya yang sangat luarbiasa mencari pengikut neraka, dengan mengganti semangat dan pengabdian kita hanya kepada Allah SWT ( SO..LANSUNG SIKAT AJA SOB..!!!)
Sebenarnya masih banyak yang ingin ana sampaikan tapi nanti malah menjadi buku bukan artikel (Alasan aja…:D) Penulis mohon maaf bila ada tulisan yang kurang berkenan, penulis hanya mencari bahasa yang tidak terlalu membosankan betulkan cuy. Tetap semangat menundukkan iblis yang ada di hati kita. Takbir x3( ALLAHU AKBAR..x3)

Cinta Yang Salah

Cinta kepada Allah harus lebih besar dari apapun itu
Semua orang pasti pernah merasakan sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Namun kebanyakan orang tidak memahami apa itu cinta dengan benar. Bahkan kebanyakan orang menyalahgunakan cinta menjadi Syahwat dan Hawa nafsu karena keduanya sebenarnya berbeda jika kota benar-benar memahaminya.

Cinta bisa berakibat fatal apabila kita salah dalam mempraktikkannya dengan mengedepankan syahwat dan hawa nafsu, karena nafsu tidak akan pernah ada puasnya sampai kapanpun.

Seseorang yang terperangkap dalam cinta syahwat dan hawa nafsu akan selalu tersiksa dan bahkan menjadi budak setan dan hawa nafsunya sendiri yang semestinya dia menjadi hamba Allah.

Diantara contoh cinta yang salah adalah yang dikenal dengan istilah pacaran. Islam tidak mengenal istilah pacaran dan proses pernikahan tidak boleh didahului dengan pacaran. Karena pacaran umumnya akan menyebabkan sepasang insan akan terjerumus ke lubang perzinahan dan penuh dengan kemudharatan

Pacaran bukanlah ukuran untuk menilai seseorang karena pacaran penuh dengan kepalsuan dan kebohongan. Apalagi kalau sampai pacaran itu berbuah pergaulan bebas dan perzinahan. Jika sepasang umat Islam berbeda jenis yang akan melalui pernikahan maka Islam akan menganjurkan pasangan tersebut melakukan Ta’aruf bukan malah pacaran yang penuh kemudhorotan dan sebagai sarana perzinahan. Nudzubillahiminzalik.

Semoga Allah menyelamatkan kita semua, Amin.

GARIS BESAR SHALAT

Masjid
 Oleh : Rendy Setya Budi
Berdasarkan berbagai keterangan dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Hadits Nabi, dapat dikatakan bahwa shalat adalah kewajiban peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam. Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita menegakkan shalat (iqamat al-shalah, yakni menjalankannya dengan penuh kesungguhan), dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan.[1]
Sebuah hadits Nabi saw menegaskan, "Yang pertama kali akan diperhitungkan tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah shalat. Jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pula seluruh amalnya."[2]
Dan sabda beliau lagi, "Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah kepada Allah), tiang penyangganya shalat, dan puncak tertingginya ialah perjuangan di jalan Allah."[3]
Karena demikian banyaknya penegasan-penegasan tentang pentingnya shalat yang kita dapatkan dalam sumber-sumber agama, dan tentu sepatutnya kita memahami makna shalat itu sebaik mungkin.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa agaknya shalat merupakan "kapsul" keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan. Dalam shalat itu kita mendapatkan keinsyafan akan tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri (ibadah) kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, dan melalui shalat itu kita memperoleh pendidikan pengikatan pribadi atau komitmen kepada nilai-nilai hidup yang luhur.
Dalam perkataan lain, nampak pada kita bahwa shalat mempunyai dua makna sekaligus:
- Makna intrinsik, sebagai tujuan pada dirinya sendiri
- Makna instrumental, sebagai sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur

Makna Intrinsik Shalat (Arti Simbolik Takbirat al-Ihram)
Kedua makna itu, baik yang intrinsik maupun yang instrumental, dilambangkan dalam keseluruhan shalat, baik dalam unsur bacaannya maupun tingkah lakunya. Secara Ilmu Fiqih, shalat dirumuskan sebagai "Ibadah kepada Allah dan pengagungan-Nya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu yang dibuka dengan takbir (Allahu Akbar) dan ditutup dengan taslim (al-salam-u 'alaykam wa rahmatu-'l-Lah-i wa barakatuh), dengan runtutan dan tertib tertentu yang diterapkan oleh agama Islam."[4]
Takbir pembukaan shalat itu dinamakan "takbir ihram" (takbirat al-ihram), yang mengandung arti takbir yang mengharamkan", yakni, mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan shalat sebagai peristiwa menghadap Tuhan.
Takbir pembukaan itu seakan menjadi suatu pernyataan formal seseorang membuka hubungan diri dengan Tuhan, dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua bentuk hubungan dengan sesama manusia.
Maka makna intrinsik shalat diisyaratkan dalam arti simbolik takbir pembukaan itu, yang melambangkan hubungan dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya. Jika disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia oleh Allah agar mereka menghamba kepada-Nya, maka wujud simbolik terpenting penghambaan itu ialah shalat yang dibuka dengan takbir tersebut, sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap menghadap Allah SWT.
Sikap menghadap Allah itu kemudian dianjurkan untuk dikukuhkan dengan membaca doa pembukaan (du'a al-iftitah), yaitu bacaan yang artinya, "Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi, secara hanif (kecenderungan suci kepada kebaikan dan kebenaran) lagi muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik dan Benar itu), dan aku tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik."[5]
Lalu dilanjutkan dengan seruan, "Sesungguhnya shalatku, darma baktiku, hidupku dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku termasuk mereka yang pasrah (muslim)." [6]
Jadi, dalam shalat itu seseorang diharapkan hanya melakukan hubungan vertikal dengan Allah, dan tidak diperkenankan melakukan hubungan horizontal dengan sesama makhluk (kecuali dalam keadaan terpaksa). Inilah ide dasar dalam takbir pembukaan sebagai takbirat al-ihram.
Karena itu, dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, shalat atau sembahyang dipandang sebagai "mati sajeroning urip" (mati dalam hidup),karena memang kematian adalah panutan hubungan horizontal sesama manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan "hari pembalasan" tanpa hubungan horizotal seperti pembelaan, perantaraan, ataupun tolong-menolong. [7]
Selanjutnya dia yang sedang melakukan shalat hendaknya menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang makhluk yang sedang menghadap Khaliknya, dengan penuh keharuan, kesyahduan dan kekhusyukan. Sedapat mungkin ia menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha Pencipta itu sedemikian rupa sehingga ia "seolah-olah melihat Khaliknya"; dan kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya bahwa "Khaliknya melihat dia", sesuai dengan makna ihsan seperti dijelaskan Nabi saw dalam sebuah hadits.[8]
Karena merupakan peristiwa menghadap Tuhan, shalat juga sering dilukiskan sebagai mi'raj seorang mukmin, dalam analogi dengan mi'raj Nabi saw yang menghadap Allah secara langsung di Sidrat al-Muntaha.
Dengan ihsan itu orang yang melakukan shalat menemukan salah satu makna yang amat penting ibaratnya, yaitu penginsyafan diri akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (omnipresent), sejalan dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci :
"Dia (Allah) itu beserta kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan." [9]
Bahwa shalat disyariatkan agar manusia senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya, ditegaskan, misalnya, dalam perintah kepada Nabi Musa as. saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai:
"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!" [10] Dan ingat kepada Allah yang dapat berarti kelestarian hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini, yaitu bahwa "Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya". [11]
Maka dalam literatur kesufian berbahasa Jawa, Tuhan Yang Maha Esa adalah "Sangkan-Paraning hurip" (Asal dan Tujuan hidup), bahkan "Sangkan-Paraning dumadi" (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir hidup tentu akan mendorong seseorang untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga ia kelak akan kembali kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).
Oleh karena manusia mengetahui, baik secara naluri maupun logika, bahwa Allah tidak akan memberi perkenan kepada sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti yang harus ditempuhnya dalam rangka hidup menuju Allah ialah yang benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang asal-muasalnya ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani, bersifat cahaya, yakni, terang dan menerangi), yang merupakan pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber dorongan suci manusia menuju kebenaran (hanif).
Tetapi manusia adalah makhluk yang sekalipun pada dasarnya baik namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kaitan nyatanya dengan hidup sehari-hari. Sering kebenaran itu tak nampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu (hawa al-nafs, kecenderungan diri sendiri) yang subyektif dan egois sebagai akibat dikte dan penguasaan oleh vested interest-nya.
Karena itu dalam usaha mencari dan menemukan kebenaran tersebut mutlak diperlukan ketulusan hati dan keikhlasannya, yaitu sikap batin yang murni, yang sanggup melepaskan diri dari dikte kecenderungan diri sendiri atau hawa nafsu itu.
Begitulah, maka ketika dalam shalat seseorang membaca “surat al-Fatihah” yang merupakan bacaan terpenting dalam ibadat itu. Dan kandungan makna surat itu yang harus dihayati benar-benar ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim).
Permohonan itu setelah didahului dengan pernyataan bahwa seluruh perbuatan dirinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah (basmalah),diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya sebagai pemelihara seluruh alam raya (hamdalah), Yang Maha Pengasih (tanpa pilih kasih di dunia ini -al-Rahman) dan Maha Penyayang (kepada kaum beriman di akhirat kelak -al-Rahim).
Lalu dilanjutkan dengan pengakuan terhadap Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap orang akan berdiri mutlak sebagai pribadi di hadapan-Nya selaku Maha Hakim, dikukuhkan dengan pernyataan bahwa kita tidak akan menghamba kecuali kepada-Nya saja semurni-murninya, dan juga hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan karena menyadari bahwa kita sendiri tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk menemukan kebenaran.
Dalam peneguhan hati bahwa kita tidak menghambakan diri kecuali kepada-Nya serta dalam penegasan bahwa hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan tersebut, seperti dikatakan oleh Ibn 'Atha' Allah al-Sakandari, kita berusaha mengungkapkan ketulusan kita dalam memohon bimbingan ke arah jalan yang benar. Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan bahwa kita tidak dibenarkan mengarahkan hidup ini kepada sesuatu apapun selain Tuhan, dan ketulusan berbentuk pelepasan pretensi-pretensi akan kemampuan diri menemukan kebenaran.
Dengan kata lain, dalam memohon petunjuk ke jalan yang benar itu, dalam ketulusan, kita harapkan senantiasa kepada Allah bahwa Dia akan mengabulkan permohonan.kita, namun pada saat yang sama juga ada kecemasan bahwa kebenaran tidak dapat kita tangkap dengan tepat karena kesucian fitrah kita terkalahkan oleh kelemahan kita yang tidak dapat melepaskan diri dari kungkungan kecenderungan diri sendiri."Harap-harap cemas" itu merupakan indikasi kerendahan hati dan tawadlu', dan sikap itu merupakan pintu bagi masuknya karunia rahmat llahi:
"Berdoalah kamu kepada-Nya dengan kecemasan dan harapan! Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat baik." [12].
Jadi, di hadapan Allah "nothing is taken for granted," termasuk perasaan kita tentang kebaikan dan kebenaran dalam hidup nyata sehari-hari. Artinya, apapun perasaan, mungkin malah keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran yang kita miliki harus senantiasa terbuka untuk dipertanyakan kembali.
Salah satu konsekuensi itu adalah "kecemasan." Jika tidak begitu maka berarti hanya ada harapan saja. Sedangkan harapan yang tanpa kecemasan samasekali adalah sikap kepastian diri yang mengarah pada kesombongan. Seseorang disebut sesat pada waktu ia yakin berada di jalan yang benar padahal sesungguhnya ia menempuh jalan yang keliru.
Keadaan orang yang demikian itu, lepas dari "iktikad baiknya" tidak akan sampai kepada tujuan, meskipun, menurut Ibnu Taymiyyah, masih sedikit lebih baik daripada orang yang memang tidak peduli pada masalah moral dan etika; orang inilah yang mendapatkan murka dari Allah.

Maka diajarkan kepada kita bahwa yang kita mohon kepada Allah ialah jalan hidup mereka terdahulu yang telah mendapat karunia kebahagiaan dari Dia, bukan jalan mereka yang terkena murka, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ini berarti adanya isyarat pada pengalaman berbagai umat masa lalu. Maka ia juga mengisyaratkan adanya kewajiban mempelajari dan belajar dari sejarah, guna menemukan jalan hidup yang benar. [13]
Disebutkan dalam Kitab Suci bahwa shalat merupakan kewajiban "berwaktu" atas kaum beriman. [14] Yaitu, diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (Subuh), diteruskan ke siang hari (Dhuhur), kemudian sore hari (Ashar), lalu sesaat setelah terbenam matahari (Maghrib) dan akhirnya di malam hari ('Isya).
Hikmah di balik penentuan waktu itu ialah agar kita jangan sampai lengah dari ingat di waktu pagi, kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (Dhuhur) dan, lebih-lebih lagi, saat kita "santai" sesudah bekerja (dari Ashar sampai 'Isya). Sebab, justru saat santai itulah biasanya dorongan dalam diri kita untuk mencari kebenaran menjadi lemah, mungkin malah kita tergelincir pada gelimang kesenangan dan kealpaan. Karena itulah ada pesan Ilahi agar kita menegakkan semua shalat, terutama shalat tengah, yaitu Ashar, [15] dan agar kita mengisi waktu luang untuk bekerja keras mendekati Tuhan.[16]
Sebagai kewajiban pada hampir setiap saat, shalat juga mengisyaratkan bahwa usaha menemukan jalan hidup yang benar juga harus dilakukan setiap saat, dan harus dipandang sebagai proses tanpa berhenti. Oleh karena itu memang digunakan istilah "jalan," [17] dan pengertian "jalan" itu dengan sendirinya terkait erat dengan gerak dan dinamika. Maka dalam sistem ajaran agama, manusia didorong untuk selalu bergerak secara dinamis, sedemikian rupa sehingga seseorang tidak diterima untuk menjadikan keadaannya tertindas di suatu negeri atau tempat sehingga ia tidak mampu berbuat baik, karena ia toh sebenarnya dapat pergi, pindah atau bergerak meninggalkan negeri atau tempat itu ke tempat lain di bumi Tuhan yang luas ini. [18]
Dengan kata lain, dari shalat yang harus kita kerjakan setiap saat sepanjang hayat itu kita diajari untuk tidak berhenti mencari kebenaran, dan tidak kalah oleh situasi yang kebetulan tidak mendukung. Sekali kita berhenti karena merasa telah "sampai" pada suatu kebenaran, maka ia mengandung makna kita telah menemukan kebenaran terakhir atau final, dan itu berarti menemukan kebenaran mutlak. Ini adalah suatu kesombongan, seperti telah kita singgung di atas, dan akan menyangkut suatu kontradiksi dalam terminologi, yaitu adanya kita yang nisbi dapat mencapai kebenaran final yang mutlak.
Dan hal itu pada urutannya sendiri, akan berarti salah satu dari dua kemungkinan: apakah kita yang menjadi mutlak, sehingga "bertemu" dengan yang final itu, ataukah yang final itu telah menjadi nisbi, sehingga terjangkau oleh kita! Dan manapun dari kedua kemungkinan itu jelas menyalahi jiwa paham Tauhid yang mengajarkan tentang Tuhan, Kebenaran Final (al-Haqq), sebagai Wujud yang "tidak sebanding dengan sesuatu apa pun juga" [19] dan "tidak ada sesuatu apapun juga yang semisal dengan Dia" [20].
Jadi, Tuhan tidak analog dengan sesuatu apa pun juga. Karena itu Tuhan juga tidak mungkin terjangkau oleh akal manusia yang nisbi. Ini dilukiskan dalam Kitab Suci, "Itulah Allah, Tuhanmu sekalian, tiada Tuhan selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah akan Dia; Dia adalah Pelindung atas segala sesuatu. Pandangan tidak menangkap-Nya, dan Dia menangkap semua pandangan. Dia adalah Maha Lembut, Maha Teliti." [21]

Begitulah, kurang lebih, sebagian dari makna surat al-Fatihah, yang sebagai bacaan inti dalam shalat dengan sendirinya menjiwai makna shalat itu. Adalah untuk doa kita yang kita panjatkan dengan harap-harap cemas agar ditunjukkan ke jalan yang lurus itu maka pada akhir al-Fatihah kita ucapkan dengan syahdu lafal Amin, yang artinya, "Semoga Allah mengabulkan permohonan ini." Dan sikap kita yang penuh keinsyafan sebagai kondisi yang sedang menghadap atau tawajjuh ("berhadap wajah") kepada Tuhan itulah yang menjadi inti makna intrinsik shalat kita.


MAKNA INSTRUMENTAL SHALAT (ARTI SIMBOLIK UCAPAN SALAM)

Shalat disebut bermakna intrinsik (makna dalam dirinya sendiri), karena ia merupakan tujuan pada dirinya sendiri, khususnya shalat sebagai peristiwa menghadap Allah dan berkomunikasi dengan Dia, baik melalui bacaan, maupun melalui tingkah laku (khususnya ruku' dan sujud). Dan shalat disebut bermakna instrumental, karena ia dapat dipandang sebagai sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri.
Sesungguhnya adanya makna instrumental shalat itu sangat logis, justru sebagai konsekuensi makna intrinsiknya juga. Yaitu, jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kesehariannya, maka tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak pada tingkah laku dan pekertinya, yang tidak lain daripada dampak kebaikan. Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan itu merupakan kebahagiaan tersendiri yang tak terlukiskan dalam kata-kata, namun tidak kurang pentingnya ialah perwujudan keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa perilaku berbudi pekerti luhur, sejiwa dalam perkenan atau ridla Tuhan.
Inilah makna instrumental shalat, yang jika shalat itu tidak menghasilkan budi pekerti luhur maka ia sebagai "instrumen" akan sia-sia belaka. Berkenaan dengan ini, salah satu firman Allah yang banyak dikutip ialah, "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada engkau (hai Muhammad), yaitu Kitab Suci, dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang kotor dan keji, dan sungguh ingat kepada Allah adalah sangat agung (pahalanya). Allah mengetahui apa yang kamu sekalian kerjakan." [22]
Dengan jelas firman itu menunjukkan bahwa salah satu yang dituju oleh adanya kewajiban shalat ialah bahwa pelakunya menjadi tercegah dari kemungkinan berbuat jahat dan keji. Maka pencegahan diri dan perlindungannya dari kejahatan dan kekejian itu merupakan hasil pendidikan melalui shalat. Karena itu jika shalat seseorang tidak mencapai hal yang demikian maka ia merupakan suatu kegagalan dan kemuspraan yang justru terkutuk dalam pandangan Allah. Inilah pengertian yang kita dapatkan dari firman Allah, (terjemahnya, kurang lebih) "Sudahkah engkau lihat orang yang mendustakan agama? Yaitu dia yang menghardik anak yatim, dan tidak dengan tegas menganjurkan pemberian makan kepada orang miskin! Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lupa akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan." [23]
Jadi, ditegaskan bahwa shalat seharusnya menghasilkan rasa kemanusiaan dan kesetiakawanan sosial, yang dalam firman itu dicontohkan dalam sikap penuh santun kepada anak yatim dan kesungguhan dalam memperjuangkan nasib orang miskin. Adalah hasil dan tujuan shalat sebagai sarana pendidikan budi luhur dan perikemanusiaan itu yang dilambangkan dalam ucapan salam sebagai penutupnya. Ucapan salam tidak lain adalah doa untuk keselamatan, kesejahteraan dan kesentosaan orang banyak, baik yang ada di depan kita maupun yang tidak, dan diucapkan sebagai pernyataan kemanusiaan dan solidaritas sosial.
Dengan begitu maka shalat dimulai dengan pernyataan hubungan dengan Allah (takbir) dan diakhiri dengan pernyataan hubungan dengan sesama manusia (taslim, ucapan salam). Dan jika shalat tidak menghasilkan ini, maka ia menjadi muspra, tanpa guna, bahkan menjadi alasan adanya kutukan Allah, karena dapat bersifat palsu dan menipu. Dari situ kita dapat memahami kerasnya peringatan dalam firman itu.
Dalam kaitannya dengan firman itu Muhammad Mahmud al-Shawwaf menguraikan makna ibadat demikian: Terdapat berbagai bentuk ibadat pada setiap agama, yang diberlakukan untuk mengingatkan manusia akan keinsyafan tentang kekuasaan Ilahi yang Maha Agung, yang merupakan sukma ibadat itu dan menjadi hikmah rahasianya sehingga seorang manusia tidak mengangkangi manusia yang lain, tidak berlaku sewenang-wenang dan tidak yang satu menyerang yang lain. Sebab semuanya adalah hamba Allah.
Betapapun hebat dan mulianya seseorang namun Allah lebih hebat, lebih mulia, lebih agung dan lebih tinggi. Jadi, karena manusia lalai terhadap makna-makna yang luhur ini maka diadakanlah ibadat untuk mengingatkan mereka. Oleh karena itulah setiap ibadat yang benar tentu mempunyai dampak dalam pembentukan akhlak pelakunya dan dalam pendidikan jiwanya.
Dampak itu terjadi hanyalah dari ruh ibadat tersebut dan keinsyafan yang pangkalnya ialah pengagungan dan kesyahduan. Jika ibadat tidak mengandung hal ini maka tidaklah disebut ibadat, melainkan sekedar adat dan pamrih, sama dengan bentuk manusia dan patungnya yang tidak disebut manusia, melainkan sekedar khayal, bahan tanah atau perunggu semata.
Shalat adalah ibadat yang paling agung, dan suatu kewajiban yang ditetapkan atas setiap orang muslim. Dan Allah memerintahkan untuk menegakkannya, tidak sekedar menjalaninya saja. Dan menegakkan sesuatu berarti menjalaninya dengan tegak dan sempurna karena kesadaran akan tujuannya, dengan menghasilkan berbagai dampak nyata. Dampak shalat dan hasil tujuannya ialah sesuatu yang diberitakan Allah kepada kita dengan firman-Nya, "Sesungguhnya shalat mencegah dari yang kotor dan keji", [24]
Dan firman-Nya lagi, "Sesungguhnya manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat..." [25]
Allah SWT memberi peringatan keras kepada mereka yang menjalani shalat hanya dalam bentuknya saja seperti gerakan dan bacaan tertentu namun melupakan makna ibadat itu dan hikmah rahasianya, yang semestinya menghantarkannya pada tujuan mulia berupa gladi kepribadian, pendidikan kejiwaan dan peningkatan budi. Allah berfirman, "Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lupa akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan." [26]
Mereka itu dinamakan "orang yang shalat" karena mereka mengerjakan bentuk lahir shalat itu, dan digambarkan sebagai lupa akan shalat yang hakiki, karena jauh dari pemusatan jiwa yang jernih dan bersih kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, yang seharusnya mengingatkannya untuk takut kepada-Nya, dan menginsyafkan hati akan kebesaran kekuasaan-Nya dan keluhuran kebaikan-Nya.

Para ulama membagi riya atau pamrih menjadi dua. Pertama, pamrih kemunafikan, yaitu jika perbuatan ditujukan untuk dapat dilihat orang lain guna mendapatkan pujian, penghargaan atau persetujuan mereka. Kedua pamrih adat kebiasaan, yaitu perbuatan dengan mengikuti ketentuan-ketentuannya namun tanpa memperhatikan makna perbuatan itu dan hikmah rahasianya serta faedahnya, dan tanpa perhatian kepada Siapa (Tuhan) yang sebenarnya ia berbuat untuk-Nya dan guna mendekat kepada-Nya. Inilah yang paling banyak dikerjakan orang sekarang. Sungguh amat disayangkan! [27]
Demikian penjelasan yang diberikan oleh seorang ahli agama dari Arab, al-Shawwaf, tentang makna instrumental shalat. Dalam Kitab Suci juga dapat kita temukan ilustrasi yang tajam tentang keterkaitan antara shalat dan perilaku kemanusiaan:
Setiap pribadi tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya Kecuali golongan yang beruntung (kanan) Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya, tentang nasib orang-orang yang berdosa: "Apa yang membawa kamu ke neraka?". Sahut mereka, "Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang shalat, Dan tidak pula kami pernah memberi makan orang-orang melarat Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena Dan kami dustakan adanya hari pembalasan Sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati)." [28]
Maka, secara tegas, yang membuat orang-orang itu "masuk neraka" ialah karena mereka tidak pernah shalat yang menanamkan dalam diri mereka kesadaran akan makna akhir hidup ini dan yang mendidik mereka untuk menginsyafi tanggung jawab sosial mereka. Maka mereka pun tidak pernah menunaikan tanggung jawab sosial itu. Sebaliknya, mereka menempuh hidup egois, tidak pernah mengucapkan salam dan menghayati maknanya, juga tidak pernah menengok ke kanan dan ke kiri. Mereka pun lupa, malah tidak percaya, akan datangnya saat mereka harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan mereka pada hari pembalasan (akhirat).
Jika kita kemukakan dalam bahasa kontemporer, shalat --selain menanamkan kesadaran akan makna dan tujuan akhir hidup kita— ia juga mendidik dan mendorong kita untuk mewujudkan sebuah ide atau cita-cita yang ideal dan luhur, yaitu terbentuknya masyarakat yang penuh kedamaian, keadilan dan perkenan Tuhan melalui usaha pemerataan sumber daya kehidupan untuk seluruh warga masyarakat itu. Jika kita paham ini, maka kita pun paham mengapa banyak terdapat penegasan tentang pentingnya shalat, sekaligus kita juga paham mengapa kutukan Tuhan begitu keras kepada orang yang melakukan shalat hanya sebagai ritus yang kosong, yang tidak menghasilkan keinsyafan yang mendalam dan komitmen sosial yang meluas.






CATATAN

1. "Sungguh berbahagialah mereka yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalat mereka..." (QS. al-Mu'minun 23:1-2).
2. Hadits, dikutip a.l. oleh Muhammad Mahmud al-Shawwaf, Kitab Ta'lim al-Shalah (Jeddah: al-Dar al-Su'udiyyah li al-Nasyr, 1387 H/1967 M), hal. 9.

3. Ibid.,hal. 13
4. Ibid., hal. 24
5. Doa pembukaan shalat ini sesungguhnya kita warisi dari kalimat Nabi Ibrahim a.s. dengan sedikit perubahan (yaitu tambahan kata-kata musliman), yang dia ucapkan sebagai kesimpulan proses pencariannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus pernyataan pembebasan diri dari praktek syirik kaumnya di Babilonia. (Lihat QS. al-An'am/6:79 dan penuturan di situ tentang bagaimana pengalaman pencarian Nabi Ibrahim sehingga ia "menemukan" Tuhan Yang Maha Esa, ayat 74-83).
6. Seruan ini pun berasal dari Kitab Suci, berupa perintah Allah kepada Nabi kita agar mengucapkan seruan serupa itu, sebagai kelanjutan semangat agama Nabi Ibrahim. Diadopsi dengan sedikit perubahan, yaitu dari "wa ana awwal al-muslimin" (dan aku adalah yang pertama dari mereka yang pasrah) menjadi "wa ana min al-muslimin" (dan aku termasuk mereka yang pasrah). (Lihat QS. al-An'am/6:161-162).
7. Lihat, a.l., QS. al-Baqarah 2:48, 123 dan 254.
8. Ada sebuah hadits yang amat terkenal, yang banyak dikutip para ulama kita, berkenaan dengan penjelasan Nabi saw tentang arti Iman, Islam dan Ihsan. Ketika Nabi saw ditanya tentang Ihsan (al-ihsan), beliau menjawab, "Al-ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya; dan kalau pun engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau."
9. QS. al-Hadid 57:4
10. QS. Thaha 20:14.
11. QS. al-Baqarah/2:156.
12. QS. al-A'raf/7:65.
13. Dalam Kitab Suci banyak kita temukan perintah Allah agar kita mempelajari sejarah dan pengambil pelajaran daripada Kitab Suci itu. Lihat, a.l. QS. Ali 'Imran/3:137.
14. QS. al-Nisa'/4:103.
15. QS. al-Baqarah/2:238.
16. QS. al-Insyirah/94:7-8.
17. Selain "shirath," metafor jalan juga dinyatakan dalam beberapa kata baku lain dalam nomenklatur Islam, yaitu syari'ah, thariqah, sabil, minhaj dan mansak, yang kesemuanya bermakna dasar "jalan" atau "cara" (metode).
18. Lihat QS. al-Nisa'/4:97.
19. QS. al-Ikhlash/112:4.
20. QS. al-Syura/42:11.
21. QS. al-An'am/6: 102-3.
22. QS. al-Ankabut/29:45.
23. QS. al-Ma'un/107:1-~.
24. QS. al-Ankabut/29:45.
25. QS. al-Ma'arij/70:19-22.
26. QS. al-Ma'un/107:
27. Muhammad Mahmud al-Shawwaf, 'Uddat al-Muslimin (Jeddah: al-Dar al-Su'udiyyah li al-Nasyr, 1388 H/1968 M). h. 55-57.
28. QS. al-Muddatstsir/74:38-47.
--------------------------------------------

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons