Kamis, 18 Agustus 2011

Ahlan Wa Sahlan Mahasiswa Baru Muslim Teknik Fisika 2011

Allahu Akbar ! Pekik takbir menggema di teater A kampus ITS Surabaya. Inilah antusiasme adik-adik Mahasiswa Baru (Maharu) Teknik Fisika 2011, saat mengikuti Welcome Party FUSI Ulul Albaab (WP FUSI UA). Walaupun tengah berpuasa di bulan Ramadhan, mereka masih bersemangat untuk memenuhi undangan dari FUSI UA pada 14 Agustus 2011 lalu. Hal ini terbukti dengan jumlah peserta yang hadir, 93 orang dari ikhwan dan 43 orang dari akhwat. Acara ini dibuat untuk memperkenalkan FUSI UA kepada Maharu. Ada acara buka barengnya juga lho. Acara WP ini diawali dengan pembukaan dan tilawah. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Akhi Daniel Fathur Rizal, Ketua Umum FUSI UA, Akhi Ahmad Fauzan, dan Pembina FUSI UA, Bapak Dhanny Arifianto. Acara selanjutnya adalah tausiyah yang dibawakan oleh Bapak Hatta dengan materi ”Ramadhon Bulan Berprestasi”. Materi yang dibawakan dengan sangat interaktif ini membuat para Maharu tidak bosan mendengarkannya. Acara mencapai puncaknya saat  akh Fauzan memberikan presentasi mengenai Fusi Ulul Albaab.  Di awal presentasi,  Fauzan memutarkan Video Profil Fusi Ulul  Albaab hasil buatan dari Departement Humas Media. Para maharu nampak sangat antusias karena video yang disuguhkan sangat menarik. 
 Allahu Akbar, Allahu Akbar, gegap gempita suara takbir itu terdengar hingga luar ruang teater A, tempat acara tersebut berlangsung. Hingga maghrib menjelang para Maharu masih tetap tak menurun semangatnya. Tetaplah semangat wahai saudara-saudari baruku semua, untuk berdakwah di Teknik Fisika. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
(Penyerahan souvenir kepada pembicara oleh ketua umum FUSI UA 2011/2012)
*lihat video profil FUSI UA di sini
by: ika

Senin, 15 Agustus 2011

Ramadhan Di Kampus TF 1432 H (RANDIKA TF 1432 H)


Minggu, 14 Agustus 2011

Video Profil Fusi UA

Alhamdullilah. Dengan waktu seminggu, Kami dari team redaksi Humas-Media dan tentunya di bantu dengan kawan-kawan yang lain, berhasil membuat video profil fusi ulul albab. Dilakoni dengan para BPH Fusi Ua yaitu Fauzan (Ketua umum), Bangkit (Kepala Departement PSDU), Uki (Kepala Departement Syiar) dan Dimas (Kepala Departement Humas-Media) berhasil menarik perhatian para maharu (mahasiswa baru) yang saat itu berada pada acara welcome party Fusi Ulul Albab.


Berikut video nya

Senin, 01 Agustus 2011

Kamuflase Ramadhan

“Mohon maaf atas segala khilaf”
Ya, kurang lebih sms seperti itu yang masuk ke HP saya akhir-akhir ini. Tak heran karena memang tak lama lagi bulan Ramadhan akan kembali menghiasi hari-hari kaum muslimin di seluruh dunia. Semua orang yang berikrar sebagai muslim tentulah tahu keunggulan bulan suci Ramadhan karena memang keutamaannya senantiasa diucapkan dan dikabarkan para penceramah di masjid-masjid. Jika kita merenung, mengapa makna dari bulan Ramadhan begitu besar dan mendalam seakan menjadi titik tumpu setiap umat atas sejuta harapan untuk kehidupan yang lebih baik pasca Ramadhan. Tidak heran, jika muara Ramadhan yang ditandai dengan “Idul Fitri” dijadikan sebagai hari kemenangan setiap umat yang menunaikannya.

Bulan Ramadhan memang sangat luar biasa dalam menuntun manusia kembali ke dalam jalan Tuhannya. Bagaimana tidak, dapat kita saksikan fakta di sekitar kita bahwa banyak sekali fenomena yang khusus terjadi pada bulan suci ini, misalnya penuhnya jamaah sholat subuh di masjid-masjid yang biasanya sepi dari aktivitas sholat fardhu.
Sebelum berlanjut ke pembahasan selanjutnya, mari kita simak kebiasaan Rasul SAW dan para sahabat ketika bulan Ramadhan. Dahulu, Rasul SAW dan para sahabat senantiasa menyibukkan diri dalam beribadah. Di siang hari beliau tetap semangat beraktivitas dakwah dan di malam hari menyibukkan diri dalam sholat malam serta I’tikaf. Sekarang mari kita lihat fenomena umat islam saat ini, khususnya para pemuda. Di siang hari kebanyakan mereka mengurangi aktivitas dengan alas an berpuasa, kemudian bermalas-malasan. Di siang hari mereka memilih tidur siang dengan dalih tidur siang adalah ibadah. Memang benar, namun jika tidur siangnya orang berpuasa saja adalah ibadah lalu bias dibayangkan bila waktu tidur siang tersebut dilakukan untuk beramal sholih, tentu akan lebih berpahala besar. Sedangkan di sore hari, apa yang mereka lakukan? Mereka membuat daftar list masjid-masjid yang menyediakan buka puasa gratis nan dengan menu makanan yang di atas rata-rata. Manusiawi memang, namun kapan waktu yang disediakan untuk tilawah? Untuk sholat duha? Untuk membaca buku-buku islami?
Saudaraku sekalian, jangan sampai bulan suci Ramadhan yang benar-benar suci ini kita sambut dengan kesunngguhan ibadah kita yang hanya semu belaka, yang hanya bersemangat beribadah hanya dalam bulan Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan latihan, yang artinya kita sebagai seorang muslim harus benar-benar siap menjalankan ibadah seusai Ramadhan. Semua orang mungkin sudah bosan dengan pernyataan ini. Tapi apakah kita pantas merasa muak dengan pernyataan ini sedangkan hal ini memang merupakan sesuatu yang harus kita laksanakan??
Rasa syukur yang tak terhingga kita panjatkan kepada Sang Pencipta alam semesta dan seisinya ini karena berkat kemurahan-Nyalah kita bisa melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan tahun ini. Marilah kita bersama-sama merenungi kembali bagaimana ibadah puasa kita tahun ini. Apakah puasa kita tahun ini lebih baik atau sebaliknya dari tahun-tahun yang telah kita lalui. Yuk, mari bersama berusaha menjadi manusia yang lebih baik!
Dalam samudera bisa diduga
Dalam hati siapa tahu
Ditunggu segera undangan buka puasa
Pasti bermakna ibadah Ramadhanmu

  sumber : fauzan-magetan.blogspot.com

Sabtu, 30 Juli 2011

Antara Tugas, Kewajiban dan Realita

Bismillah…
Siang ini (masih) terasa teduh, walau matahari berada tepat di pertengahan langit. Sinarnya masih halus menyentuh kulit, tak menyengat. Dalam perjalanan pulangku dari sebuah tempat keramaian, kucoba untuk memikirkan satu pertanyaan yang terus membayangiku selama ini. Ya, sejak kuputuskan untuk berada dalam barisan (yang katanya dakwah) ini bersama orang-orang yang kuanggap shalih. Pertanyaan itu tak bisa berhenti, terus terbayang dalam pikirku.
Sebagai seorang yang bergabung dengan barisan dakwah, harus siap untuk diatur dalam segala hal. Mulai dari penampilan, pergaulan, tutur kata sampai pemikiran yang harus jelas dasarnya. Awalnya aku tak keberatan, dengan segala aturan yang ada. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu, dan seterusnya. Karena kusadari, bahwa semua aturan-aturan itu adalah konsekuensi nyata dari ikrar (syahadat) yang seharusnya pun juga menjadi konsekuensi dari seluruh umat (Islam) yang mengikrarkannya. Namun sepertinya, perbedaan jalan yang terlanjur dijadikan sesuatu yang membedakan antara kami (yang berada dalam barisan dakwah) dengan pengikrar lainnya menuntut kami untuk ‘berbeda’ dari yang lain. Kesalahan kecil yang (mungkin) biasa dilakukan oleh pengikrar lainnya, seolah menjadi dosa besar ketika yang melakukannya adalah kami. Begitulah, sampai akhirnya timbul satu pertanyaan dari dalam hati. Seandainya suatu waktu ada seseorang yang melihatku berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan anggapan orang-orang yang (sudah terlanjur) beranggapan bahwa seorang da’i seharusnya memiliki keshalihan yang excelent, ibadah OK, pergaulan OK, tutur kata OK, ya…semua serba OK lah lantas orang tersebut (yang mungkin iseng) berkata, “kalian ini penampilan OK, bak ustadz/ ustadzah. Menjaga pergaulan sampai salaman sama lawan jenis aja ogah, kalo jalan nunduk sampai ada mobil di depan kadang-kadang gak tau. Ngomongnya kesana-kemari udah kyak Kyai-kyai kondang. Udah kayak penimbun pahala kan, udah yakin bekal di surga banyak dong? Seharusnya no accident, mesti sesuai…”
Hm..mungkin saat ini kata-kata itu hanya ada dalam pikiranku semata. Tapi bukan sesuatu hal yang tidak mungkin, suatu waktu, pernyataan dan pertanyaan semacam itu terlontar dari lisan seseorang dan langsung ditujukan ke muka ku. Astaghfirullahal’adziim… Lantas apa yang harus aku katakan? Kawan, tiba-tiba aku teringat kata-kata seorang pembicara dalam sebuah pertemuan. Begini, yang bisa membawa kita masuk ke dalam Surga-nya Allah SWT. bukan-lah amal-amal kita, bukan seberapa banyak uang yang sudah kita sedekahkan, seberapa rajin kita sholat malam, seberapa sering kita puasa sunnah dan sebagainya. Tetapi yang membuat kita masuk ke surganya Allah adalah Rahmat-Nya. Ya, Rahmat yang Allah curahkan pada kita. So, bagaimana cara mendapatkan Rahmat itu?
OK, kembali ke pertanyaan seseorang (entah siapa) tadi. Mungkin sebenarnya jawaban pertanyaan itu simpel, hanya yakin atau tidak. Tapi bagi orang sepertiku (yang sangat banyak kesalahan-nya dan jauh dari kata sempurna) cukup membuat bibir ini terkunci rapat, dan membuat kerongkongan ini tersedak. Dengan segala kerendahan hati, jawaban ini yang terpikirkan olehku,
“pak, bu, dik, kak, mas, mbak, teman…. begini, tau berapa lama kita hidup di dunia? Hanya sebentar. Sangat… sebentar. Lantas, dengan waktu yang sebentar itu apa yang bisa kita lakukan untuk mengumpulkan bekal di akhirat? Mengenai ‘penampilan’, yang seperti ini bukanlah aturan untuk saya saja, melainkan untuk seluruh orang-orang beriman. Bukan begitu? Ini adalah salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk membentengi diri saya agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. dengan ‘penampilan’ seperti ini maka saya akan terus mengingat Allah, ketika hendak berbohong, membicarakan orang lain, mengumpat, atau bahkan mencuri. Ini salah satu cara yang bisa saya lakukan untuk menghindari hal-hal tersebut.”
Pernah bahkan sering terlontar dari teman-teman putri yang belum ingin memakai jilbab, “saya ingin menata hati dulu, memperbaiki perilaku terlebih dahulu baru nanti pakai jilbab. Banyak yang sudah memakai jilbab ternyata tidak bisa menjaga diri”. Jika seperti ini, yang salah jilbab atau pemakainya? Sebenarnya jilbab tidak akan bisa merubah akhlak, kebiasaan, pemikiran seseorang. Tidak bisa juga menambah pemahaman seseorang tentang agama. Namun, jilbab bisa membatasi ketika akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama (seharusnya). Ibaratnya, seseorang yang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama dengan orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang tidak (seberapa) namanya. Apakan kualitas dan kemampuannya tergantung dari nama perguruan tinggi-nya? Begitu juga dengan penampilan. Memakai jilbab adalah kewajiban (sebagai seorang muslimah), sedang seberapa kualitas (iman dan ketaatan) seseorang, tidak bisa dinilai dari penampilan. Tergantung seberapa besar arti jilbab bagi seseorang. Kalau kewajiban yang sudah jelas saja tidak dihiraukan, bagaimana dengan aturan-aturan (larangan) Allah yang lain? (Ex. Menjaga hati, memperbaiki perilaku).
Well,,apa hubungan uraian (yang cukup panjang lebar) tersebut dengan pernyataan dan pertanyaan seseorang (tadi). Intinya, seberapa banyak bekal seseorang untuk kehidupan akhirat, tidak ada yang tau seberapa banyaknya, cukup atau tidak. Tapi yang jelas, segala yang dilakukan (dalam barisan dakwah) ini adalah sesuatu yang kami (saya) usahakan untuk terus memperbaiki diri. Menyadur dari kata-kata seseorang, di dalam diri seseorang itu ada dua sisi (seperti mata uang). Sisi baik dan sisi buruk, pilihannya hanya ada dua. Akan kita asah sisi yang baik atau sisi yang buruk. Ketika kita tidak melakukan (disibukkan) untuk melakukan suatu kebaikan, maka sisi buruk-lah yang terasah (secara otomatis). Sedang ketika kita sibuk dengan kebaikan, maka sisi buruk-lah yang akan mendominasi. Dalam hal ini, berlaku ungkapan ‘siapa yang kuat, dialah pemenangnya’. Hawa nafsu atau hati yang bersih? Beginilah cara (yang bisa kuusahakan) untuk mendapatkan curahan RahmatMu..
Seorang da’i bukan manusia yang tanpa dosa, bukan nabi atau rasul yang terjaga dari perbuatan-perbuatan dosa. Terlebih di lingkungan yang tidak semua orang memiliki visi dan misi yang sama. Sekali lagi, (‘penampilan’) ini adalah usaha untuk terus memperbaiki diri. Bukan sebaliknya, menjadi baik dulu baru menjaga penampilan.

from : http://buihpasir.wordpress.com/

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons